Translate

Rabu, 06 Februari 2013

Horor di Kampus


Kampus tampak lengan pada jam 6 sore. Lorong-lorong diantara ruang kelas senyap tanpa kegiatan mahasiswa. Begitu pula lorong-lorong laboratorium. Nyala lampu darurat di ujung tangga justru menambah suasana seram lorong-lorong ini. Anti memberanikan diri untuk berjalan di salah satu lorong di lantai dua gedung laboratorium. Dia harus mengembalikan timbangan analitik yang dipinjamnya untuk menimbang tanaman cabai hasil penelitiannya. Nyalinya ciut, apalagi setelah mengetahui cerita-cerita seram tentang penghuni lain di laboratorium bila malam tiba. Dia tak ingin menjadi saksi hidup atas kejadian menyeramkan seperti itu. Akantetapi membawa pulang timbangan bisa dianggap kejahatan serius di kampus. Meski dia takut, Anti berjuang memberanikan dirinya.

Anti menarik nafas dalam-dalam. Dia mulai menapakkan kaki kanannya. Aman. Tidak terjadi apa-apa. Kepercayaan Anti langsung bertambah. Dia semakin yakin bahwa dirinya akan baik-baik saja. Meski masih tersisa sedikit keraguan, Anti melangkah menuju laboratorium produksi tanaman.

Anti mulai merasakan ada yang aneh di lorong itu. Dia memang tidak terjatuh dalam lubang yang mendadak muncul atau melihat penampakan hantu. Tidak. Dia tidak mendapati semua itu. Yang dirasakan Anti adalah gema langkah kakinya sendiri di lorong. Anti meyakinkan dirinya, bahwa gema itu terjadi karena lorong itu senyap. Anti yakin, gema semcam ini juga terjadi bila banyak mahasiswa berjalan di sana, hanya saja mereka tidak memperhatikannya karena suara obrolan jauh mendominasi. Lalu Annti mulai yakin. Dia yakin bahwa sura gema itu berasal dari dua langkah kaki yang berbeda. Jika yang pertama adalah milik Anti, lalu yang kedua milik siapa?

Anti memperlambat jalannya. Dia memindahkan beban titik tumpu kakinya agar suara langkahnya melemah. Anehnya, sura langkah ke dua itu pun melambat dan melemah. Anti menatap lurus ke depan, dia melihat pintu laboratorium produksi masih sekitar empat meter. Dengan sekuat tenaga, Anti mempercepat langkahnya, semakin cepat, hampir berlari.seramnya suara langkah kaki ke dua itu pun semakin cepat, seiring dengan langkah kaki Anti. Begitu sampai tepat di depan pintu laboratorium produksi, anti langsung meraih kunci yang ada di sakunya, berjuang secepat mungkin membuka pintu, dan tidak melihat. Sayangnya rasa gugup Anti justru membuat dia tidak bisa memasukkan kunci ke lubangnya dengan benar. Anti semakin panik.

Lalu, sesuatu menyentuh bahunya. Sekujur tubuh Anti langsung terasa dingin. Dengan gemetar, dia masih berjuang membuka pintu laboratorium produksi. Tangannya bergetar makin hebat dan tubuhnya semakin dingin. Dalam hitungan detik, Anti menyadari ada sesuatu tercermin di kaca pintu laboratorium produksi. Sesuatu yang pastinya ada tepat di belakang Anti. Berharap bayangan itu tak nyata, Anti menoleh memastikan apa yang ada di belakangnya.

“Kyaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!” suara Anti menggema di lorong gedung lantai dua.                        

***


Pras sedang memanaskan air dengan teko kecil yang diam-diam ia simpan di loker. Profesornya pasti akan menegur bila mengetahui kegiatan sampingan Pras di laboratorium. Pras sering membuat kopi dan mie instan di sela-sela kesibukannya melakukan penelitian. Sejauh ini belum ada yang tahu teko ajaib simpanan Pras. Beberapa mahasiswa lain yang terpaksa tinggal di laboratorium hingga larut lebih sering membeli kopi atau makanan dari kantin kampus yang memang disediakan hingga jam sembilan malam. Karena Pras malas bila harus turun ke lantai satu, dia menyelundupkann teko kecil untuk memasak air.

Pras sudah merasa mengantuk padahal masih jam enam. Jika diingat sih dia baru tidur tiga jam selama dua hari terakhir. Maka Pras berinisiatif membuat secangkir kopi untuk mengusir kantuknya. Tepat ketika air di tekonya mendidih, Pras mendengar suara wanita menjerit dari lorong-lorong gedung. Pras langsung menahan nafas. Dia berharap suara lengkingan itu muncul lagi agar dia dapat mengtahui dengan pasti posisi suara itu berasal. Sayangnya harapan Pras tidak terkabul. Gedung kembali senyap. Hanya suara air mendidih yang dapat didengarnya.
***

Telepon yang tiba-tiba berdering mengejutkan Yulia yang sedang konsentrasi mengecat jaringan batang jagung. Kekagetannya membuat pipet yang dipegangnya jatuh dan cairannya mengotori kertas catatan Yulia. Merasa kesal bercampur kaget, Yulia segera membersihkannya dengan tisu. Sembari bergumam jengkel, dia mengangkat telepon laboratorium. “Halo!”

“Heh, Yul! Kamu denger ga barusan ada suara cewek teriak?!”

“Ck! Kamu to Pras. Ngagetin aja. Laktofenol ku jadi tumpah gara-gara telpon mu!”

“ Heeeeh, itu ga penting tau. Kamu denger ga sih ada suara cewek teriak?”

Yulia memutar bola matanya, mencoba mengingat-ingat, namun tidak ada suara teriakan cewek yang dia dengar, “ga tuh.”

“Masa sih? Dari sini aja kedengeran. Kuping mu pasti kotor banget.”

“Sialan kamu! Udah ah, ga penting. Aku mau lanjut kerja nih.”

Yulia langsung menutup telepon paralel antar laboratorium tersebut. Dia kembali menekuni pekerjaannya mengecat jaringan batang jagung. Ketika Yulia berhasil meneteskan cairan laktofenol dengan benar pada preparatnya, dia mendengar ada suara pegangan pintu ditarik dengan paksa. Yulia langsung waspada. Dia meletakkan alat-alat yang dipegangnya, kemudia mengalihkan perhatian pada pintu laboratorium. Ada yang mencoba membuka pintu itu dari luar. Yulia sengaja menguncinya tadi. Dia sering tidak sadar bila sudah berkonsentrasi pada penelitiannya. Dia khawatir ada orang yang diam-diam masuk ke laboratorium dan tidak disadarinya sama sekali. Itulah gunanya mengunci pintu, Yulia akan tahu bila ada orang yang berusaha masuk.

Orang itu makin kasar menarik-narik pegangan pintu. Dia membuat kaca pintu bergetar. Penasaran sekaligus kesal, Yulia memutuskan untuk melihat siapa yang mencoba masuk tersebut. Dia pasti akan memarahinya habis-habisan.

Yulia menyibakkan tirai yang menutupi kaca pintu laboratorium. Namun dia tidak melihat siapa-siapa. Lorong tampak remang-remang dengan penerangan lampu darurat. Ingin memastikan bahwa memang ada orang yang tadi mencoba masuk, Yulia membuka pintu perlahan-lahan. Blak! Tidak ada siapa-siapa. Yulia menjulurkan kepalanya memeriksa koridor, tetap saja tak ada siapa-siapa. Yulia tiba-tiba merinding. Buru-buru dia menutup pintu kemudian menguncinya lagi.

Yulia memutuskan untuk kembali bekerja. Kembali dia tekun mewarnai jaringan batang jagung di depan mikroskop. Lima menit berselang, lalu ada seseorang atau sesuatu yang kembali mencoba membuka pintu laboratorium. Kali ini Yulia langsung bergegas membuka tirai di pintu. Dia akan langsung memarahi orang itu. Sayangnya, lagi-lagi tidak ada sapa-siapa di balik pintu tersebut. Langsung ditutupnya tirai. Tanpa pikir panjang Yulia meraih telepon paralel.

***


Telepon berdering. Kali ini tidak hanya sekali. Setelah deringan panjang yang pertama selesai, dering panjang ke dua dimulai. Yahya tak begitu memperhatikan bunyi telepon seluler yang terletak dekat pintu masuk. Dia ada kira-kira empat meter dari telepon itu. Dia sedang mengankat sekeranjang penuh bungkusan tanah. Pekerjaannya lebih mirip kuli sebenarnya, mengangkat beberapa karung tanah dari rumah kaca, kemudian menimbangnya, lalu mengemasnya dalam plastik dengan berat tiga kiloan. Sudah begitu laboratoriumnya tidak memiliki AC. Dia bahkan tak mengenakan jas lab sama sekali. Memakai jas lab sambil bekerja seperti itu ibarat neraka jahanam. Toh badan Yahya sudah jadi otot semua tanpa lemak. Karena Yahya tak kunjung mengangkatnya, dering telepon itu berbunyi. Selang setengah menit telepon itu berbunyi lagi. Yahya pun tetap tidak mengangkatnya. Telinganya terlalu sibuk mendengarkan dengung blower dan bunyi inkubator shaker.

Yahya teralihkan dari bungkusan tanahnya ketika ada yang mengetuk pintu laboratorium. Ternyata ada petugas keamanan kampus yang menegoknya. “Masih lama, Mas Bro?”

“Iya, Pak. Masih buanyak kerjaanya.”

“Mas, Bro, itu ada telpon. Dari tadi bunyi terus. Tak kira mas Bro lagi keluar, makanya saya cek.”

Yahya bergegas menghampiri Pak petugas kemanan. Pada akhirnya dia baru tahu ada telepon masuk. “Wah, iya. Makasih Pak diingatkan.” Yahya mengucapkan terimakasih dengan tulus.

"Halo,” namun yang didengar Yahya hanyalah suara nafas yag memburu.  “Halo. Ini siapa ya? Halo?” Yang didengar Yahya hanyalah suara nafas yang memburu, sesekali rengekan. 

Merasa heran, sekaligus penasaran, dahi Yahya berkerut. Melihat reaksi Yahya, si petugas keamanan mengurungkan diat untuk kembali ke bagian resepsionis. Instingnya sebgaia petugas keamanan menangkap adanya ancaman bahaya. “Kenapa, mas Bro?”

“Ga tau, Pak. Telponnya aneh. Denger deh,” Yahya menyerahkan gagang telepon pada Petugas kemanan. “Cuma orang ngos-ngosan.”

“Iya, Mas,” Petugas kemanan itu menyetujui Yahya. “ Ini siapa ya?” Namun yang di ujung lain sambungan telepon malah menangis. Terdengar sedu-sedan yang ditahan dan nafas yang memburu. “Mas, ini aneh. Sepertinya dia ketakutan.”

“Tapi siapa ya Pak? Kalo dia bilang dia siapa dan ada di mana, kan bisa kita jemput,” komentar Yahya.

Rupanya kata-kata Yahya tertangkap oleh si penelepon. Dengan terbata-bata dan tidak jelas, si penelepon mulai menggumamkan sesuatu. “Hkks....hhhh...jar...hhh.. jari...huhuhuhu....hhhh...jari....”

“Mas, dia mulai ngomong!” seru Petugas keamanan merasa mendapat petunjuk. Dai dan Yahya mendekatkan telinga pada gagang telepon, maksudnya mendengarkan bersama.

“Jari...Hiks....hhhhh.....huhuhu...Jngan.....Jngan...hiks....hhhh...”

Keduanya bingung. Mereka saling berpandangan dan berfikir. Jari? Jngan? Apa.........ada jari tangan jalan-jalan sendiri di lab?! Keduanya lantas begidik.

“Halo. Halo. Tolong bicara yang jelas. Halo. Maksudnya jari apa? Maksudnya Jngan apa?” teriak Yahya panik.

“Hwaaa!!!! Haaaaa!!!” mendadak si penelepon berteriak histeris. Jantung Yahya dan Petugas kemanan itu seakan mau copot. Mereka reflek melempar gagang telepon ke meja. Setelah histeris agak tenang, si penelepon kembali mengatakan sesuatu yang tak jelas. “Huhuhuhu....jaring...hhhhhh....jaringn.... hiks...hiks....sini....”

Setelah cukup tenang, Yahya langsung menyambar telepon itu dan bicara dengan tegas, “Kamu di situ saja. Tutup teleponnya. Aku akan segera menjemput.”

“ Jangan ditutup, Mas Bro. Ini satu-satunya jalan agar dia terhubung dengan dunia luar. Kalau sampai ditutup, dia bisa tertelan ke dunia lain,” kata Petugas keamanan agak histeris.

“He?! Gitu ya, Pak?!” Yahya langsung menuruti saran Petugas keamanan. “Jangan tutup telponnya! Jangan tutup! Apapun yang terjadi kamu jangan tutup telponnyaaaaaaaa!!!!!” teriak Yahya lebih keras daripada suara bom.


***


Kemudian, Yahya meninggalkan telepon kepada Petugas keamanan yang sebenarnya ketakutan. Yahya langsung berlari menyusuri koridor lantai Satu dan menyalakan semua lampu di lorong. Dia memeriksa satu demi satu kondisi di dalam laboratorium. Semua gelap. Tak ada yang menyala. Ketika matanya menangkap tulisan ‘Laboratorium Mikrobia’ otaknya langsung berputar. Laboratorium Mikrobia, Laboratorium Ekologi, Laboratorium Zoologi, Laboratorium Penyakit, Laboratorium Genetika, Laboratorium Kimia Organik, nama-nama laboratorium di lantai satu sudah disebut semua. Mungkin si penelepon bermaksud mengatakan Laboratorium Jaringan. “Whaaa!!! Ketemu!!!” teriaknya membuat kebisingan.

Yahya langsung berlari lewat tangga darurat menuju Lantai dua. Dia langsung menekan saklar lampu di sepanjang koridor setelah berteriak keras untuk mengusir keheningan yang menegangkan. Kira-kira di depan pintu Laboratorium  Jaringan, ada sesosok manusia tergeletak tak berdaya. Awalnya Yahya sempat kaget. Namun jiwa patriotnya lebih unggul. Yahya langsung berlari menghampiri tubuh tak berdaya tersebut. Rasa kagetnya semakin menjadi-jadi karena ternyata bukan hanya satu, ada dua tubuh tergeletak tak berdaya.

“Woi!” serunya sekeras mungkin. Misal itu manusia pingsan, siapa tahu dia langsung kaget dan sadar. Misal itu bukan manusia, siapa tahu kaget dan menghilang gara-gara suara lantang Yahya. “Kamu ga apa-apa?”

Tampak seorang wanita dalam kondisi pingsan sedang dirangkul seorang laki-laki pucat. Laki-laki ini berusaha membawa si wanita, namun dia sendiri tidak punya tenaga. Tangan kirinya yang bebas digunakannya untuk menggedor-gedor pintu Laboratorium Kultur Jaringan dengan sisa tenaga yang ia miliki. Keduanya sama-sama tergeletak tak berdaya.

“Oi!, kamu ga apa-apa?” tanya Yahya mencoba membangunkan si laki-laki. “Oi, kalian kenapa? Oi, jawab!”

Laki-laki itu membuka matanya sedikit. Wajahnya benar-benar pucat, seperti daging beku yang baru keluar dari freezer. Dia langsung membelalakkan mata dan menarik lengan baju Yahya, “Tolong...tolong dia.”

“Iya..iya,” jawab Yahya dengan nafas memburu.  “Aku tolong dia. Tapi kamu juga perlu ditolong. Katakan, ada apa sebenarnya?”

Yahya sedang berjuang mendengarkan keterangan laki-laki tak berdaya itu, tiba-tiba ada yang menepuk bahunya. Spontan dia berteriak keras-keras. “Whaaaa!!!!”

“Whaaa!!!!” balas si penepuk bahu. Dia sendiri kaget dengan reaksi Yahya. “Kenapa kamu teriak?!”

“Kamu ngagetin!!!” bentak Yahya.

“ Aku yang kaget tau!!”

Akhirnya kedua orang sehat itu dapat menguasai keadaan. Mereka mulai menyadari identitas satu sama lain. Ternyata orang itu tak lain adalah Pras, yang langsung penasaran setelah mendengar teriakan Yahya ketika menyalakan saklar lampu koridor lantai dua. Dia langsung meninggalkan laboratoriumnya di lantai tiga. “ Mereka kenapa?”

Yahya menggeleng lemas, “ Aku baru mau dengar dia bicara, kamu tiba-tiba ngagetin.”  Pras menelan ludah karena merasa bersalah.

Mereka lantas bahu membahu membantu dua orang tak berdaya itu. Yahya menyandarkan kepala si laki-laki ke dinding lalu berusaha mendengarkan setiap kata yang terucam lemah dari bibirnya. Pras menyandarkan kepala si wanita ke pangkuannya. Dia memeriksa denyut nadi wanita itu.

Mendadak, dari dalam Laboratorium Jaringan, ada suara kunci pintu yang berusaha dibuka. Pras dan Yahya langsung membeku. Mereka saling pandang dengan waspada. Keduanya langsung menatap pintu Laboratorium Kultur Jaringan yang tampak bergerak. BRAK!!

Jantung Pras dan Yahya sempat berhenti sedetik. Yulia tiba-tiba ambruk setelah berhasil membuka pintu dengan susah payah. “Hwaaaa......hiks hiks hiks... Kalian lama banget....hiks...hiks...”

“Yul...kamu kenapa?” tanya Pras panik.

“Hiks...hiks...aku takut, Pras....hiks...hiks...” Yulia melampiaskan rasa takutnya dengan menangis sejadi-jadinya. “Begitu kamu selesai telepon, ada yang gedor- gedor pintu Lab...hisk...hiks....Pas ku buka ga ada siapa-siapa. Huhuhuhu....ga lama ada yang gedor-gedor lagi.”

“Kamu yang telpon ke lab ku?” tanya Yahya hati-hati. Yulia mengangguk lemas sembari berlinangan air mata. “Maaf, aku ga dengar ada telpon, aku di samping inkubator shaker.”

“ Trus kita harus gimana sekarang? Mereka harus dibawa ke rumah sakit,” kata Pras.

Yulia baru menyadari, ada dua orang lain yang sedang pingsan. “Mereka siapa?”

“Ga tahu. Begitu ketemu, mereka sudah pingsan,” kata Yahya menjelaskan. “Laki-laki ini yang menggedor-gedor pintu mu.”

“Ha?” Yulia terkejut. “Ga mungkin. Tadi aku dah nengok koridor, ga ada siapa-siapa.”

“ Mungkin yang pertama tadi memang bukan manusia, Yul. Tapi yang kedua kayaknya memang dia,” jawab Prass enteng. Yulia semakin keras  menagis.

“Sudah, sudah. Sekarang kita perlu bantuan. Kita harus panggil petugas keamanan untuk bantu kita mengankat dua orang pingsan ini dan mengantar mereka ke rumah sakit,” himbau Yahya.

Kemudian, Pras menghubungi pos petugas kemanan dengan telepon paralel. Yulia memberikan pertolongan pertama dengan mengoleskan minyak angin yang kebetulan selalu ada di saku jas lab-nya. Tak lama kemudian dua petugas kemanan datang. Mereka kemudian mengangkat dua orang pingsan tersebut dan mengantarkan mereka ke rumah sakit terdekat. Yulia pun mendapatkan perawatan karena sempat mengalami ketakutan hingga histeris. Pras dan Yahya kemudian kembali ke kampus, mebereskan pekerjaan masing-masing, kemudian bergegas kembali ke rumah sakit.


***


Setelah mendapat perawatan medis, dua korban pingsan itu pun siuman. Mereka tidak diperbolehkan menerima kunjungan hingga kondisi kejiwaan mereka stabil. Begitu mendapat kabar bahwa si laki-laki sudah boleh dijenguk, Pras, Yahya, dan Yulia langsung mendatanginya.

“Jadi, pas aku mau minta tolong pada Anti, dia malah teriak kemudian pingsan. Aku sendiri kaget, karena dia benar-benar pingsan. Aku tak tahu harus bagaimana, jadi aku berusaha membangunkannya. Begitu dia siuman, dia tampak kaget sekali lalu pingsan lagi. Aku mencari bantuan. Semua lab tutup, termasuk lab mu saat itu, Ya,” si korban laki-laki menceritakan kronologi kejadian kemarin sore. “Kayaknya kamu pas ke rumah kaca. Terus aku ke lantai dua, siapa tahu ada orang yang lembur. Aku dengar ada suara dari Lab jaringan. Aku memastikan orang, tapi begitu aku sudah di depan pintu Lab, suaranya hilang. Jadi aku mencoba masuk untuk minta tolong. Ternyata pintunya dikunci. Karena lama tak dibukakan, aku kembali menghampiri Anti, siapa tahu dia sudah sadar. Tapi ternyata belum. Aku berusaha menggendong Anti sampai di Lab Jaringan. Apa daya tenaga ku habis. Aku mulai tak kuat berdiri. Aku menyandarkan Anti di bahuku, dan tetap berjuang mengetuk pintu Lab Jaringan, berharap kami segera ditolong. Rasanya lama sekali. Seperti sudah berjam-jam. Aku senang sekali saat melihat wajah Yahya.”

Yahya, Pras, dan Yulia mentap senior mereka tanpa komentar. Tatapan mereka seakan bisa membunuh seekor gajah.

“Kok wajah mu bisa sepucat itu?” tanya Pras penasaran. “Pantas Anti ketakutan setengah mati. Aku dan Yahya saja tak mengenali mu.”

“Oh....itu karena aku terlalu lama di ruang steril, kan suhunya dingin banget. Tanpa sadar aku sudah dua hari tak keluar dari sana mengejakan kultur. Tahu-tahu sudah sore dan lapar sekali. Pas mau minta makan ke Anti, dia malah pingsan,” terang si senior santai.

Yahya, Pras, dan Yulia langsung meletakkan segala macam makanan yang mereka bawa. Kemudian mereka meninggalkan ruangan pasien tanpa bicara. Mereka, sama dengan kalian para pembaca, merasa kesal dan konyol sudah ketakutan gara-gara orang kelaparan. (End)





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerita Populer