Translate

Tampilkan postingan dengan label Medium. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Medium. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Februari 2013

Horor di Kampus


Kampus tampak lengan pada jam 6 sore. Lorong-lorong diantara ruang kelas senyap tanpa kegiatan mahasiswa. Begitu pula lorong-lorong laboratorium. Nyala lampu darurat di ujung tangga justru menambah suasana seram lorong-lorong ini. Anti memberanikan diri untuk berjalan di salah satu lorong di lantai dua gedung laboratorium. Dia harus mengembalikan timbangan analitik yang dipinjamnya untuk menimbang tanaman cabai hasil penelitiannya. Nyalinya ciut, apalagi setelah mengetahui cerita-cerita seram tentang penghuni lain di laboratorium bila malam tiba. Dia tak ingin menjadi saksi hidup atas kejadian menyeramkan seperti itu. Akantetapi membawa pulang timbangan bisa dianggap kejahatan serius di kampus. Meski dia takut, Anti berjuang memberanikan dirinya.

Anti menarik nafas dalam-dalam. Dia mulai menapakkan kaki kanannya. Aman. Tidak terjadi apa-apa. Kepercayaan Anti langsung bertambah. Dia semakin yakin bahwa dirinya akan baik-baik saja. Meski masih tersisa sedikit keraguan, Anti melangkah menuju laboratorium produksi tanaman.

Anti mulai merasakan ada yang aneh di lorong itu. Dia memang tidak terjatuh dalam lubang yang mendadak muncul atau melihat penampakan hantu. Tidak. Dia tidak mendapati semua itu. Yang dirasakan Anti adalah gema langkah kakinya sendiri di lorong. Anti meyakinkan dirinya, bahwa gema itu terjadi karena lorong itu senyap. Anti yakin, gema semcam ini juga terjadi bila banyak mahasiswa berjalan di sana, hanya saja mereka tidak memperhatikannya karena suara obrolan jauh mendominasi. Lalu Annti mulai yakin. Dia yakin bahwa sura gema itu berasal dari dua langkah kaki yang berbeda. Jika yang pertama adalah milik Anti, lalu yang kedua milik siapa?

Anti memperlambat jalannya. Dia memindahkan beban titik tumpu kakinya agar suara langkahnya melemah. Anehnya, sura langkah ke dua itu pun melambat dan melemah. Anti menatap lurus ke depan, dia melihat pintu laboratorium produksi masih sekitar empat meter. Dengan sekuat tenaga, Anti mempercepat langkahnya, semakin cepat, hampir berlari.seramnya suara langkah kaki ke dua itu pun semakin cepat, seiring dengan langkah kaki Anti. Begitu sampai tepat di depan pintu laboratorium produksi, anti langsung meraih kunci yang ada di sakunya, berjuang secepat mungkin membuka pintu, dan tidak melihat. Sayangnya rasa gugup Anti justru membuat dia tidak bisa memasukkan kunci ke lubangnya dengan benar. Anti semakin panik.

Lalu, sesuatu menyentuh bahunya. Sekujur tubuh Anti langsung terasa dingin. Dengan gemetar, dia masih berjuang membuka pintu laboratorium produksi. Tangannya bergetar makin hebat dan tubuhnya semakin dingin. Dalam hitungan detik, Anti menyadari ada sesuatu tercermin di kaca pintu laboratorium produksi. Sesuatu yang pastinya ada tepat di belakang Anti. Berharap bayangan itu tak nyata, Anti menoleh memastikan apa yang ada di belakangnya.

“Kyaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!” suara Anti menggema di lorong gedung lantai dua.                        

***


Pras sedang memanaskan air dengan teko kecil yang diam-diam ia simpan di loker. Profesornya pasti akan menegur bila mengetahui kegiatan sampingan Pras di laboratorium. Pras sering membuat kopi dan mie instan di sela-sela kesibukannya melakukan penelitian. Sejauh ini belum ada yang tahu teko ajaib simpanan Pras. Beberapa mahasiswa lain yang terpaksa tinggal di laboratorium hingga larut lebih sering membeli kopi atau makanan dari kantin kampus yang memang disediakan hingga jam sembilan malam. Karena Pras malas bila harus turun ke lantai satu, dia menyelundupkann teko kecil untuk memasak air.

Pras sudah merasa mengantuk padahal masih jam enam. Jika diingat sih dia baru tidur tiga jam selama dua hari terakhir. Maka Pras berinisiatif membuat secangkir kopi untuk mengusir kantuknya. Tepat ketika air di tekonya mendidih, Pras mendengar suara wanita menjerit dari lorong-lorong gedung. Pras langsung menahan nafas. Dia berharap suara lengkingan itu muncul lagi agar dia dapat mengtahui dengan pasti posisi suara itu berasal. Sayangnya harapan Pras tidak terkabul. Gedung kembali senyap. Hanya suara air mendidih yang dapat didengarnya.
***

Telepon yang tiba-tiba berdering mengejutkan Yulia yang sedang konsentrasi mengecat jaringan batang jagung. Kekagetannya membuat pipet yang dipegangnya jatuh dan cairannya mengotori kertas catatan Yulia. Merasa kesal bercampur kaget, Yulia segera membersihkannya dengan tisu. Sembari bergumam jengkel, dia mengangkat telepon laboratorium. “Halo!”

“Heh, Yul! Kamu denger ga barusan ada suara cewek teriak?!”

“Ck! Kamu to Pras. Ngagetin aja. Laktofenol ku jadi tumpah gara-gara telpon mu!”

“ Heeeeh, itu ga penting tau. Kamu denger ga sih ada suara cewek teriak?”

Yulia memutar bola matanya, mencoba mengingat-ingat, namun tidak ada suara teriakan cewek yang dia dengar, “ga tuh.”

“Masa sih? Dari sini aja kedengeran. Kuping mu pasti kotor banget.”

“Sialan kamu! Udah ah, ga penting. Aku mau lanjut kerja nih.”

Yulia langsung menutup telepon paralel antar laboratorium tersebut. Dia kembali menekuni pekerjaannya mengecat jaringan batang jagung. Ketika Yulia berhasil meneteskan cairan laktofenol dengan benar pada preparatnya, dia mendengar ada suara pegangan pintu ditarik dengan paksa. Yulia langsung waspada. Dia meletakkan alat-alat yang dipegangnya, kemudia mengalihkan perhatian pada pintu laboratorium. Ada yang mencoba membuka pintu itu dari luar. Yulia sengaja menguncinya tadi. Dia sering tidak sadar bila sudah berkonsentrasi pada penelitiannya. Dia khawatir ada orang yang diam-diam masuk ke laboratorium dan tidak disadarinya sama sekali. Itulah gunanya mengunci pintu, Yulia akan tahu bila ada orang yang berusaha masuk.

Orang itu makin kasar menarik-narik pegangan pintu. Dia membuat kaca pintu bergetar. Penasaran sekaligus kesal, Yulia memutuskan untuk melihat siapa yang mencoba masuk tersebut. Dia pasti akan memarahinya habis-habisan.

Yulia menyibakkan tirai yang menutupi kaca pintu laboratorium. Namun dia tidak melihat siapa-siapa. Lorong tampak remang-remang dengan penerangan lampu darurat. Ingin memastikan bahwa memang ada orang yang tadi mencoba masuk, Yulia membuka pintu perlahan-lahan. Blak! Tidak ada siapa-siapa. Yulia menjulurkan kepalanya memeriksa koridor, tetap saja tak ada siapa-siapa. Yulia tiba-tiba merinding. Buru-buru dia menutup pintu kemudian menguncinya lagi.

Yulia memutuskan untuk kembali bekerja. Kembali dia tekun mewarnai jaringan batang jagung di depan mikroskop. Lima menit berselang, lalu ada seseorang atau sesuatu yang kembali mencoba membuka pintu laboratorium. Kali ini Yulia langsung bergegas membuka tirai di pintu. Dia akan langsung memarahi orang itu. Sayangnya, lagi-lagi tidak ada sapa-siapa di balik pintu tersebut. Langsung ditutupnya tirai. Tanpa pikir panjang Yulia meraih telepon paralel.

***


Telepon berdering. Kali ini tidak hanya sekali. Setelah deringan panjang yang pertama selesai, dering panjang ke dua dimulai. Yahya tak begitu memperhatikan bunyi telepon seluler yang terletak dekat pintu masuk. Dia ada kira-kira empat meter dari telepon itu. Dia sedang mengankat sekeranjang penuh bungkusan tanah. Pekerjaannya lebih mirip kuli sebenarnya, mengangkat beberapa karung tanah dari rumah kaca, kemudian menimbangnya, lalu mengemasnya dalam plastik dengan berat tiga kiloan. Sudah begitu laboratoriumnya tidak memiliki AC. Dia bahkan tak mengenakan jas lab sama sekali. Memakai jas lab sambil bekerja seperti itu ibarat neraka jahanam. Toh badan Yahya sudah jadi otot semua tanpa lemak. Karena Yahya tak kunjung mengangkatnya, dering telepon itu berbunyi. Selang setengah menit telepon itu berbunyi lagi. Yahya pun tetap tidak mengangkatnya. Telinganya terlalu sibuk mendengarkan dengung blower dan bunyi inkubator shaker.

Yahya teralihkan dari bungkusan tanahnya ketika ada yang mengetuk pintu laboratorium. Ternyata ada petugas keamanan kampus yang menegoknya. “Masih lama, Mas Bro?”

“Iya, Pak. Masih buanyak kerjaanya.”

“Mas, Bro, itu ada telpon. Dari tadi bunyi terus. Tak kira mas Bro lagi keluar, makanya saya cek.”

Yahya bergegas menghampiri Pak petugas kemanan. Pada akhirnya dia baru tahu ada telepon masuk. “Wah, iya. Makasih Pak diingatkan.” Yahya mengucapkan terimakasih dengan tulus.

"Halo,” namun yang didengar Yahya hanyalah suara nafas yag memburu.  “Halo. Ini siapa ya? Halo?” Yang didengar Yahya hanyalah suara nafas yang memburu, sesekali rengekan. 

Merasa heran, sekaligus penasaran, dahi Yahya berkerut. Melihat reaksi Yahya, si petugas keamanan mengurungkan diat untuk kembali ke bagian resepsionis. Instingnya sebgaia petugas keamanan menangkap adanya ancaman bahaya. “Kenapa, mas Bro?”

“Ga tau, Pak. Telponnya aneh. Denger deh,” Yahya menyerahkan gagang telepon pada Petugas kemanan. “Cuma orang ngos-ngosan.”

“Iya, Mas,” Petugas kemanan itu menyetujui Yahya. “ Ini siapa ya?” Namun yang di ujung lain sambungan telepon malah menangis. Terdengar sedu-sedan yang ditahan dan nafas yang memburu. “Mas, ini aneh. Sepertinya dia ketakutan.”

“Tapi siapa ya Pak? Kalo dia bilang dia siapa dan ada di mana, kan bisa kita jemput,” komentar Yahya.

Rupanya kata-kata Yahya tertangkap oleh si penelepon. Dengan terbata-bata dan tidak jelas, si penelepon mulai menggumamkan sesuatu. “Hkks....hhhh...jar...hhh.. jari...huhuhuhu....hhhh...jari....”

“Mas, dia mulai ngomong!” seru Petugas keamanan merasa mendapat petunjuk. Dai dan Yahya mendekatkan telinga pada gagang telepon, maksudnya mendengarkan bersama.

“Jari...Hiks....hhhhh.....huhuhu...Jngan.....Jngan...hiks....hhhh...”

Keduanya bingung. Mereka saling berpandangan dan berfikir. Jari? Jngan? Apa.........ada jari tangan jalan-jalan sendiri di lab?! Keduanya lantas begidik.

“Halo. Halo. Tolong bicara yang jelas. Halo. Maksudnya jari apa? Maksudnya Jngan apa?” teriak Yahya panik.

“Hwaaa!!!! Haaaaa!!!” mendadak si penelepon berteriak histeris. Jantung Yahya dan Petugas kemanan itu seakan mau copot. Mereka reflek melempar gagang telepon ke meja. Setelah histeris agak tenang, si penelepon kembali mengatakan sesuatu yang tak jelas. “Huhuhuhu....jaring...hhhhhh....jaringn.... hiks...hiks....sini....”

Setelah cukup tenang, Yahya langsung menyambar telepon itu dan bicara dengan tegas, “Kamu di situ saja. Tutup teleponnya. Aku akan segera menjemput.”

“ Jangan ditutup, Mas Bro. Ini satu-satunya jalan agar dia terhubung dengan dunia luar. Kalau sampai ditutup, dia bisa tertelan ke dunia lain,” kata Petugas keamanan agak histeris.

“He?! Gitu ya, Pak?!” Yahya langsung menuruti saran Petugas keamanan. “Jangan tutup telponnya! Jangan tutup! Apapun yang terjadi kamu jangan tutup telponnyaaaaaaaa!!!!!” teriak Yahya lebih keras daripada suara bom.


***


Kemudian, Yahya meninggalkan telepon kepada Petugas keamanan yang sebenarnya ketakutan. Yahya langsung berlari menyusuri koridor lantai Satu dan menyalakan semua lampu di lorong. Dia memeriksa satu demi satu kondisi di dalam laboratorium. Semua gelap. Tak ada yang menyala. Ketika matanya menangkap tulisan ‘Laboratorium Mikrobia’ otaknya langsung berputar. Laboratorium Mikrobia, Laboratorium Ekologi, Laboratorium Zoologi, Laboratorium Penyakit, Laboratorium Genetika, Laboratorium Kimia Organik, nama-nama laboratorium di lantai satu sudah disebut semua. Mungkin si penelepon bermaksud mengatakan Laboratorium Jaringan. “Whaaa!!! Ketemu!!!” teriaknya membuat kebisingan.

Yahya langsung berlari lewat tangga darurat menuju Lantai dua. Dia langsung menekan saklar lampu di sepanjang koridor setelah berteriak keras untuk mengusir keheningan yang menegangkan. Kira-kira di depan pintu Laboratorium  Jaringan, ada sesosok manusia tergeletak tak berdaya. Awalnya Yahya sempat kaget. Namun jiwa patriotnya lebih unggul. Yahya langsung berlari menghampiri tubuh tak berdaya tersebut. Rasa kagetnya semakin menjadi-jadi karena ternyata bukan hanya satu, ada dua tubuh tergeletak tak berdaya.

“Woi!” serunya sekeras mungkin. Misal itu manusia pingsan, siapa tahu dia langsung kaget dan sadar. Misal itu bukan manusia, siapa tahu kaget dan menghilang gara-gara suara lantang Yahya. “Kamu ga apa-apa?”

Tampak seorang wanita dalam kondisi pingsan sedang dirangkul seorang laki-laki pucat. Laki-laki ini berusaha membawa si wanita, namun dia sendiri tidak punya tenaga. Tangan kirinya yang bebas digunakannya untuk menggedor-gedor pintu Laboratorium Kultur Jaringan dengan sisa tenaga yang ia miliki. Keduanya sama-sama tergeletak tak berdaya.

“Oi!, kamu ga apa-apa?” tanya Yahya mencoba membangunkan si laki-laki. “Oi, kalian kenapa? Oi, jawab!”

Laki-laki itu membuka matanya sedikit. Wajahnya benar-benar pucat, seperti daging beku yang baru keluar dari freezer. Dia langsung membelalakkan mata dan menarik lengan baju Yahya, “Tolong...tolong dia.”

“Iya..iya,” jawab Yahya dengan nafas memburu.  “Aku tolong dia. Tapi kamu juga perlu ditolong. Katakan, ada apa sebenarnya?”

Yahya sedang berjuang mendengarkan keterangan laki-laki tak berdaya itu, tiba-tiba ada yang menepuk bahunya. Spontan dia berteriak keras-keras. “Whaaaa!!!!”

“Whaaa!!!!” balas si penepuk bahu. Dia sendiri kaget dengan reaksi Yahya. “Kenapa kamu teriak?!”

“Kamu ngagetin!!!” bentak Yahya.

“ Aku yang kaget tau!!”

Akhirnya kedua orang sehat itu dapat menguasai keadaan. Mereka mulai menyadari identitas satu sama lain. Ternyata orang itu tak lain adalah Pras, yang langsung penasaran setelah mendengar teriakan Yahya ketika menyalakan saklar lampu koridor lantai dua. Dia langsung meninggalkan laboratoriumnya di lantai tiga. “ Mereka kenapa?”

Yahya menggeleng lemas, “ Aku baru mau dengar dia bicara, kamu tiba-tiba ngagetin.”  Pras menelan ludah karena merasa bersalah.

Mereka lantas bahu membahu membantu dua orang tak berdaya itu. Yahya menyandarkan kepala si laki-laki ke dinding lalu berusaha mendengarkan setiap kata yang terucam lemah dari bibirnya. Pras menyandarkan kepala si wanita ke pangkuannya. Dia memeriksa denyut nadi wanita itu.

Mendadak, dari dalam Laboratorium Jaringan, ada suara kunci pintu yang berusaha dibuka. Pras dan Yahya langsung membeku. Mereka saling pandang dengan waspada. Keduanya langsung menatap pintu Laboratorium Kultur Jaringan yang tampak bergerak. BRAK!!

Jantung Pras dan Yahya sempat berhenti sedetik. Yulia tiba-tiba ambruk setelah berhasil membuka pintu dengan susah payah. “Hwaaaa......hiks hiks hiks... Kalian lama banget....hiks...hiks...”

“Yul...kamu kenapa?” tanya Pras panik.

“Hiks...hiks...aku takut, Pras....hiks...hiks...” Yulia melampiaskan rasa takutnya dengan menangis sejadi-jadinya. “Begitu kamu selesai telepon, ada yang gedor- gedor pintu Lab...hisk...hiks....Pas ku buka ga ada siapa-siapa. Huhuhuhu....ga lama ada yang gedor-gedor lagi.”

“Kamu yang telpon ke lab ku?” tanya Yahya hati-hati. Yulia mengangguk lemas sembari berlinangan air mata. “Maaf, aku ga dengar ada telpon, aku di samping inkubator shaker.”

“ Trus kita harus gimana sekarang? Mereka harus dibawa ke rumah sakit,” kata Pras.

Yulia baru menyadari, ada dua orang lain yang sedang pingsan. “Mereka siapa?”

“Ga tahu. Begitu ketemu, mereka sudah pingsan,” kata Yahya menjelaskan. “Laki-laki ini yang menggedor-gedor pintu mu.”

“Ha?” Yulia terkejut. “Ga mungkin. Tadi aku dah nengok koridor, ga ada siapa-siapa.”

“ Mungkin yang pertama tadi memang bukan manusia, Yul. Tapi yang kedua kayaknya memang dia,” jawab Prass enteng. Yulia semakin keras  menagis.

“Sudah, sudah. Sekarang kita perlu bantuan. Kita harus panggil petugas keamanan untuk bantu kita mengankat dua orang pingsan ini dan mengantar mereka ke rumah sakit,” himbau Yahya.

Kemudian, Pras menghubungi pos petugas kemanan dengan telepon paralel. Yulia memberikan pertolongan pertama dengan mengoleskan minyak angin yang kebetulan selalu ada di saku jas lab-nya. Tak lama kemudian dua petugas kemanan datang. Mereka kemudian mengangkat dua orang pingsan tersebut dan mengantarkan mereka ke rumah sakit terdekat. Yulia pun mendapatkan perawatan karena sempat mengalami ketakutan hingga histeris. Pras dan Yahya kemudian kembali ke kampus, mebereskan pekerjaan masing-masing, kemudian bergegas kembali ke rumah sakit.


***


Setelah mendapat perawatan medis, dua korban pingsan itu pun siuman. Mereka tidak diperbolehkan menerima kunjungan hingga kondisi kejiwaan mereka stabil. Begitu mendapat kabar bahwa si laki-laki sudah boleh dijenguk, Pras, Yahya, dan Yulia langsung mendatanginya.

“Jadi, pas aku mau minta tolong pada Anti, dia malah teriak kemudian pingsan. Aku sendiri kaget, karena dia benar-benar pingsan. Aku tak tahu harus bagaimana, jadi aku berusaha membangunkannya. Begitu dia siuman, dia tampak kaget sekali lalu pingsan lagi. Aku mencari bantuan. Semua lab tutup, termasuk lab mu saat itu, Ya,” si korban laki-laki menceritakan kronologi kejadian kemarin sore. “Kayaknya kamu pas ke rumah kaca. Terus aku ke lantai dua, siapa tahu ada orang yang lembur. Aku dengar ada suara dari Lab jaringan. Aku memastikan orang, tapi begitu aku sudah di depan pintu Lab, suaranya hilang. Jadi aku mencoba masuk untuk minta tolong. Ternyata pintunya dikunci. Karena lama tak dibukakan, aku kembali menghampiri Anti, siapa tahu dia sudah sadar. Tapi ternyata belum. Aku berusaha menggendong Anti sampai di Lab Jaringan. Apa daya tenaga ku habis. Aku mulai tak kuat berdiri. Aku menyandarkan Anti di bahuku, dan tetap berjuang mengetuk pintu Lab Jaringan, berharap kami segera ditolong. Rasanya lama sekali. Seperti sudah berjam-jam. Aku senang sekali saat melihat wajah Yahya.”

Yahya, Pras, dan Yulia mentap senior mereka tanpa komentar. Tatapan mereka seakan bisa membunuh seekor gajah.

“Kok wajah mu bisa sepucat itu?” tanya Pras penasaran. “Pantas Anti ketakutan setengah mati. Aku dan Yahya saja tak mengenali mu.”

“Oh....itu karena aku terlalu lama di ruang steril, kan suhunya dingin banget. Tanpa sadar aku sudah dua hari tak keluar dari sana mengejakan kultur. Tahu-tahu sudah sore dan lapar sekali. Pas mau minta makan ke Anti, dia malah pingsan,” terang si senior santai.

Yahya, Pras, dan Yulia langsung meletakkan segala macam makanan yang mereka bawa. Kemudian mereka meninggalkan ruangan pasien tanpa bicara. Mereka, sama dengan kalian para pembaca, merasa kesal dan konyol sudah ketakutan gara-gara orang kelaparan. (End)





Kamis, 17 Januari 2013

Emma & Kiral


Pertama kali Emma dikenalkan pada Kiral, dia langsung berseru, “Semacam batu coral?” tanpa rasa bersalah. Tiga orang yang ada di sana langsung menahan nafas karena kaget. Sementara si batu coral menahan amarahnya hingga otot- otot keningnya menonjol keluar. Emma? Dia langsung menghabiskan ice coffe latte dalam sekali minum, meninggalkan tiga rekan kerjanya dan si batu coral demi menyelesaikan editing lembar kerja siswa (LKS) SMP yang jatuh tempo minggu ini. Begitu saja.


Kesempatan kedua Kiral bertemu Emma, dia diceramahi dengan galak mengenai anggaran produksi lembar kerja siswa. Bahwa dengan biaya produksi tinggi artinya harga jual LKS terpaksa harus tinggi. Bahwa harga yang tinggi itu artinya memberatkan katong siswa. Bahwa tingginya biaya sekolah merupakan salah satu faktor yang menyebabkan tingginya angka anak putus sekolah. Itu artinya Kiral, Emma, dan semua pegawai percetakan turut serta dalam menghancurkan masa depan generasi muda. Hal itu sama sekali tidak membanggakan untuk dipamerkan pada siapa pun, bahkan pada acara temu alumni manapun. Wajah Kiral merah padam. Malu? Tidak. Kiral merasa terhina, sehina- hinanya dituduh menghancurkan masa depan bangsa. Sejak saat itu Kiral bertekad akan menghancurkan masa depan Emma.

Pertemuan ketiga, Emma membuat Kiral mengurungkan niat balas dendamnya. Kiral sudah bermaksud menabrak Emma dengan mobil yang sedang dikemudikannya. Siapa sangka kesempatan itu muncul ketika Kiral sedang iseng berkeliling alun- alun kota dan mendapati Emma sibuk berusaha menyeberang jalan dengan susah payah sambil menenteng- nenteng bawaan berat. Sayangnya rencana tinggal rencana, beberapa detik sebelum Kiral berhasil menabrakkan moncong mobilnya, seorang anak kecil berlari ke arah Emma. Emma melemparkan bawaannya sembarangan lantas menangkap anak kecil itu dengan gesit. Kiral mengerem mendadak hingga suara dencitan bannya memekakkan telinga. Ada benturan yang dirasakan Kiral. Pikirannya langsung kacau, berharap kejadian buruk tidak terjadi. Sayangnya benturan itu memang terjadi. Bawaan Emma yang tampak berat tadi, setelah dilihat dengan jelas ternyata tumpukan koran bekas, jatuh dengan sukses membentur tutup mesin mobil. Begitu otak Kiral mulai sadar sepenuhnya, dia melihat Emma terbaring di tepi trotoar sambil memeluk anak kecil itu. Anak itu menangis histeris, orang tuanya pun histeris, orang- orang yang melihat langsung berkomentar riuh, dan Emma hanya menahan rasa perih yang diderita lengan dan punggungnya. Kiral satu- satunya orang yang mempedulikan Emma. Dia membantu wanita yang dibencinya itu berdiri, membantunya berjalan menepi, memberikan minuman, menawarkan bantuan mengantar Emma ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan pertama. Setelah Emma cukup tenang, dia berkata pada Kiral, “ Terimakasih tidak menabrak kami. Anak itu tidak sadar bahayanya. Ku rasa dia akan sedikit trauma dengan trotoar dan mobil. Syukurlah koran ku tidak merusak  mobil mu. Dan terimakasih untuk kebaikan mu.”

Rasa kaget bercampur kelegaan yang datang mendadak telah membuat pandangan Kiral tidak objektif. Entah mengapa ucapan Emma terasa bagai doa penghapusan dosa dan membersihkan segala niat jahat yang pernah mengendap dalam diri Kiral. Kiral merasa dimanusiakan dan diampuni pada waktu yang bersamaan.

 Menjelang pertemuan keempat, Kiral bertekad akan memulai jalinan persahabatan dengan Emma. Dia membeli donat dan latte dalam jumlah banyak untuk dibagi- bagikan pada karyawan percetakan sekaligus pada Emma. Kedatangan Kiral disambut dengan antusias oleh yang lain, namun tidak oleh Emma. Emma sedang menjadi editor paling mengerikan sejagad raya ketika memeriksa cetak naskah yang diserahkan seluruh penyusun. Emma menuliskan catatan perbaikan pada papan tulis besar yang melatar belakangi meja kerjanya seraya mengumumkan kesalahan apa saja yang ditemuinya. Saat Kiral menawarkan donat dan latte, Emma hanya mendengus kesal kemudian menghabiskan segelas latte sekali minum. Bahkan segelas lagi kemudian. Kiral terpesona dengan kekuatan minum Emma dan berniat menawarkan bantuan, dua orang karyawan langsung menariknya menjauh sebelum dia sempat megucapkan apa- apa. Semua karyawan di percetakan menasehatinya agar menjauhi Emma hari itu, demi kebaikan semua orang.

Kiral tertegun lama. Lama sekali. Aneh sekali hatinya terasa nyeri saat itu.

Esok harinya ketika mendistribusikan LKS ke sekolah- sekolah adalah pertemuan ke lima Kiral dengan Emma. Setelah merasa dirinya tidak lebih menarik dari bahan editan Emma, Kiral menghindar dan tidak datang ke percetakan bila tidak penting. Ketika ke percetakan pun, Kiral tidak menemui Emma. Kiral berjuang mengangkat rasa percaya dirinya kembali. Hari ini, ketika dia mau tak mau mempersilakan Emma duduk di sebelah  kursi pengemudi di mobilnya, Kiral agak sedikit gugup. Keberuntungan sedang berpihak padanya hari itu. Emma bersikap sangat manis. Tanpa kerutan di dahi, tanpa sentakan penuh emosi. Emma benar- benar menyenangkan. Terasa sekali dia merasa puas dengan hasil kerjanya. Di setiap sekolah, Emma bercakap- cakap dengan ramah pada semua guru. Dia sudah sangat dikenal di kalangan guru. Ketika ada seorang guru yang menggodanya dan bertanya siapa gerangan Kiral ini, Emma membuat hatinya terluka.

“Oh...ini? Kenalkan, Koral, anak pemilik percetakan yang sedang training,” jawab Emma santai sembari melirik Kiral sekilas, “Koral, ini Bu Hesty, wakil kepala sekolah sini.”

Training? Lulusan fakultas ekonomi perguruan tinggi terkenal dengan gelar cumlaude, mantan tenaga ahli bagian pemasaran perusahaan minuman soda, disebut Emma sedang training di percetakan kecil? Lebih buruk lagi, dia menyebutnya Koral? K-O-R-A-L?! Semacam batu coral?! Dan Kiral jatuh hati pada Emma yang menyebutnya Koral? Oh....sungguh sulit dipercaya.

Wakil kepala sekolah itu pun tidak percaya. Bu Hesty kebingungan sendiri mendengar nama Koral. “Semacam batu coral?”, pikir Bu Herti dalam hati.

Dengan perasaan dongkol, Kiral menyetir ugal-ugalan ketika balik menuju kantor. Daam hati Emma berdoa semoga mereka tidak mengalami kecelakaan.


Hari minggu merupakan hari libur yang amat dinanti-nantikan Kiral. Hari minggu adalah hari bebas bertemu Emma, begitu pikir Kiral. Sayangnya pikirannya salah total.

Emma sedang bersepeda santai di hari libur ketika tak sengaja melihat Kiral makan bubur ayam dengan lesu di sudut alun- alun kota. Terdorong rasa penasaran, Emma pun masuk warung bubur ayam itu dan memesan semangkok. Emma berharap Kiral mengenalinya, namun Kiral sama sekali tidak melihat ke arahnya, apalagi mengajaknya bergabung. Emma ragu- ragu dengan identitas Kiral. Dia memutuskan duduk di meja yang ada di seberang meja Kiral. Mengamati orang yang entah mengapa tampak berantakan dan sedikit mirip Kiral. Emma masih terus mengamati orang itu sembari makan bubur ayamnya. Dia bertanya- tanya dalam hati, “ Apa dia saudara si Koral ya?”

Sementara kejadian yang tampak janggal itu berlangsung, si pemilik warung hanya bisa bengong menunggu dua pembeli yang tersisa itu membayar.

“ Keterlaluan,” batin Kiral kesal. Nafasnya memburu karena marah. Dia berjuang untuk tidak menyapa atau menatap mata Emma demi menguji tingkat kepedulian Emma terhadap dirinya. Terbukti sudah, Emma bahkan tak mengenalinya yang hanya mengenakan kaos lusuh, celana jins lama, dan sendal karet. Terlintas dalam benaknya bahwa Emma adalah wanita matre yang hanya tertarik pada anak pemilik percetakan yang membawa mobil.

Dengan hati hancur, Kiral membayar bubur ayamnya dan langsung pergi begitu saja tanpa menyadari lembaran uangnya lima puluh ribu.

Kali ini si pemilik warung makin bengong. Harus bersyukur atau merasa bersalah? Belum selesai dia terheran- heran, Emma sudah menatapnya penuh rasa ingin tahu. “ Bapak kenal orang tadi?”

“ Neng kenal?” seketika tampak secercah harapan untuk menitipkan uang kembalian pada mbak- mbak yang ada di hadapannya saat ini. Emma mengangguk mantap.

Kiral berjalan lesu tanpa arah sejak dari warung bubur ayam tadi. Dia meratapi pertemuan keenamnya yang menyakitkan. Tanpa sadar Kiral masuk ke warnet kira- kira berjarak lima ratus meter dari alun- alun kota. Begitu masuk ke bilik, Kiral hanya menatap kosong monitor di hadapannya. Saat terdenggar sayup- sayup lagu dengan lirik “....coz i can’t stop thinking about u girl...” membahana di warnet itu, Kiral membulatkan tekad untuk mengusir pikiran tentang Emma. Dia mencurahkan rasa frustasinya dengan main game online hingga enam jam.

Kiral merasa lapar. Dia tertawa sendiri menyadari bahwa jam makan siang sudah lewat dari tadi, sedangkan perutnya masih kosong. Dia memutuskan untuk mengakhiri pertarungannya di dunia maya. Suasana hatinya sudah jauh lebih baik sekarang. Kiral menyadari bahwa tanpa ada wanita aneh yang menarik perhatiannya, dunia tetap berjalan, game online tetap tersedia, dan pekerjaan tetap harus dilanjutkan. Kiral keluar dari warnet dengan perasaan optimis menghadapi hari esok yang lebih baik.

Kiral lupa bahwa dirinya berjalan kaki saja ketika memutuskan pergi ke alun- alun. Saat ini sengatan matahari yang terik dan perut keroncongan adalah masalah utama yang benar- benar menyita pikirannya. Dalam hati Kiral mengajukan protes pada Tuhan, mengapa ketika dirinya memiliki optimisme yang menggebu, dia harus menghadapi kenyataan dunia yang pahit. Rumahnya masih dua kilo meter dari warnet itu. Kiral menghela nafas frustasi.

Setibanya dirumah, Kiral lebih frustasi lagi. Seperti mendapat peringatan dari Tuhan bahwa dibalik penderitaan yang kau rasakan masih ada penderitaan lain yang lebih menyakitkan di dunia ini. Berjalan dua kilo meter menembus terik matahari dengan perut lapar masih belum ada apa- apanya daripada mendapati Emma sedang duduk santai di serambi menunggu kedatangannya. Kali ini Emma memang menunggu kedatangannya. Pak Darwis, sopir sekaligus abdi keluarga Kiral, mengabarkan  rentang waktu yang dihabiskan Emma menunggu kedatangan majikan mudanya. Kiral hanya bisa diam menahan frustasi.

Pertemuan ke tujuh yang tidak diharapkan, batin Kiral

Dengan sedikit canggung, Kiral menghampiri Emma. "Ada apa kau ke mari?" katanya galak.
Emma mengamatinya dengan teliti hingga Kiral merasa risih. "Woi!"
Emma agak terkejut dengan seruan Kiral. Sejenak, terbersit rasa bersalah dalam hatinya.
"Emm..... Aha! Kau tadi meninggalkan uang kembalian mu." kata Emma sembari merogoh kantong. Dia mengeluarkan setumpuk uang lusuh.
"Kembalian apa?"
"Tadi kamu beli bubur di alun-alun kan?"
"Enggak, aku dari warnet." Kiral menyangkal.
"Bohong," kata Emma polos. "Ketemu ga nyapa."
"Ih, kamu tuh yang ga nyapa."
"Berarti benar kan tadi kamu beli bubur ayam."
Sial! batin Kiral. dia keceplosan.
Menutupi rasa kesalnya Kiral merebut tumpukan uang lusuh dari genggaman Emma. Dia langsung mengantonginya tanpa pikir panjang. Kemudian dia menyentuh bahu Emma dengan kedua tangannya, mengarahkan agar rekan kerjanya itu segera meninggalkan rumah.
"Lho....kok....?"  tanya Emma bingung.
"Sana pulang. Urusan mu sudah selesai kan?" Kiral mendorong Emma hingga pintu gerbang. Dia mendorong Emma melewati batas gerbang, kemudia menutup gerbang itu seceepat mungkin, menggemboknya, mengantongi kuncinya lalu beranjak masuk.

Emma malah menggedor-gedor gerbang. "Kiral.....buka gerbangnya! Hoooii....!!!"
Apa lagi sih?! batin Kiral. Apa tidak cukup cewek itu membuatnya frustasi?!
Dengan kesal Kiral menghentikan langkahnya, berbalik lantas balas berteriak, "Apa lagi sih?!"
"Sepeda ku masih di dalam bodoh!" seru Emma sengit.
Kiral mengerutkan dahi. Dia meneliti halaman rumahnya dan benar saja, ada sepeda terparkir rapi di sebelah mobilnya. "Hais!" umpatnya kesal.
Kiral lantas menuntun sepeda itu, mengambil kunci di sakunya, membuka gerbang, mendorong sepeda itu keluar yang langsung disambut Emma. Begitu sepeda itu berada di tangan pemiliknya, Kiral kembali menutup gerbang dan menguncinya.
"Sana pulang!"
"Iya! Ga kamu suruh aku juga bakal pulang!"
Kiral sedikit lega karena tahu Emma segera mgnhilang dari rumahnya.
"Woi!" seru Emma dari luar mengagetkan Kiral yang setengah melamun sambil memegangi gembok.
"Apa lagi?!"
"Asalamu'alaikum!"
"Wa'alaikum salam!"
Kiral menjulurkan telinganya, memastikan suara sepeda Emma menjauh. Setelah yakin, dia mengintip apakah Emma benar-benar pergi atau belum. Dia melihat Emma melaju sepedanya dengan santai meninggalkan rumahnya.
"Pacarnya ya, Mas?" tanya Pak Darwis sembari menepuk bahu Kiral. Kiral berteriak kaget.


OK. Memang kemarin itu sikap Kiral keterlaluan. Semua gara-gara akal sehatnya lenyap bila dekat-dekat Emma. Pagi ini, dengan pakaian rapi dia bertekad akan bersikap cool di depan Emma.


Namun harapannya hanya tinggal harapan.

Emma menyerahkan surat pengunduran diri di mejanya segera setelah dia datang. Kiral menatap Emma kosong.
"Bukan karena kamu kemarin kok," jelas Emma.
"Lalu?"
"Aku pingin pindah."
"Pindah ke mana?"
Emma tidak langsung menjawab. Pasti Kiral tampak kacau sekali. "Ke Jakarta."
"Ngapain?"
"Kerja."
"Kerja dimana?"
"Di koran nasional."
"Lalu tanggungjawab mu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa kau tinggalkan?" kata Kiral galak. Membalik kata-kata Emma dulu, saat dia menuduh Kiral menghancurkan masa depan bangsa.
"Aku kan bukan guru."
"Tapi kau membantu guru menyusun soal untuk mencerdaskan siswanya."
Emma menunduk. Dia memelintir-lintir ujung hemnya. "Tidak begitu kan? Kan masih ada staf lain......."
"Memangnya staf lain bisa menggantika mu?!" bentak  Kiral.
Kiral langsung memarahi dirinya sendiri. Kenapa dia harus begitu kasar pada Emma. Dia pria berpendidikan yang dapat menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Namun siapa dia saat ini? Bos galak.
"Maksudku buka begitu Emma," katanya penuh penyesalan.
"Aku mengerti kok."
"Lantas?"
"Sebenarnya aku ragu pindah kerja."
"Lha? Lantas untuk apa surat pengunduran diri ini?" Kiral mengacung-acungkan surat pengunduran diri Emma, lalu menyobeknya.
"Terlanjur ku tulis. Itu ku tulis dua bulan lalu, sebelum kamu pindah ke sini."
"Jadi karena terlanjur kau tulis, surat ini kau serahkan?" Krial frustasi.
Emma mengangguk mantab. "Sudah kau sobek, berarti sudah tidak berlaku kan?"
Kiral menatap Emma tajam, lalu menatap sobekan surat pengunduran diri Emma yang berserakan di lantai kantornya. "Iya sudah sobek," jawab Kiral sekenanya.
"Aku tidak jadi pingin pindah."
"Kenapa?"
"Aku suka pada mu. Mau bagaimana lagi. Kalau aku pindah, aku tak bisa ketemu dengan mu lagi," jawab Emma polos.
Kiral terpaku.
"Ya sudah. Aku akan kerja dulu." Emma berkata dengan riang. Emma lantas mendekati Kiral, berjinjit, lantas mencium pipi Kiral. "Kamu manis sih."
Tanpa berkata lagi Emma meninggalkan kantor Kiral dengan sedikit lari-lari kecil.
"Oh, apa ini? Permainan mu?" Kiral mengumpat dalam hati.
"Kau memang keterlaluan Emma!" Kiral mengakui, bahwa Emma memang keterlaluan dalam mengambil hatinya.
Sejak saat itu, Emma memang masih bersikap seenaknya, tapi perhatiannya pada Kiral tulus dan berlanjut terus.
Kiral yang sudah mengerti dan menyadari perasaannya sudah tidak hilang kendali lagi. Dia bisa mengendalikan diri tiap kali bertemu Emma sebagai karyawan perusahaannya atau sebagai kekasihnya di luar  kantor.
Hubungan mereka berjalan serius hingga mereka menikah kira-kira setahun kemudian.

Ah....cerita yang aneh ^^








Cerita Populer