Pertama kali Emma dikenalkan pada Kiral, dia
langsung berseru, “Semacam batu coral?” tanpa rasa bersalah. Tiga orang yang
ada di sana langsung menahan nafas karena kaget. Sementara si batu coral
menahan amarahnya hingga otot- otot keningnya menonjol keluar. Emma? Dia
langsung menghabiskan ice coffe latte
dalam sekali minum, meninggalkan tiga rekan kerjanya dan si batu coral demi
menyelesaikan editing lembar kerja siswa (LKS) SMP yang jatuh tempo minggu ini.
Begitu saja.
Kesempatan kedua Kiral bertemu Emma, dia diceramahi
dengan galak mengenai anggaran produksi lembar kerja siswa. Bahwa dengan biaya
produksi tinggi artinya harga jual LKS terpaksa harus tinggi. Bahwa harga yang
tinggi itu artinya memberatkan katong siswa. Bahwa tingginya biaya sekolah
merupakan salah satu faktor yang menyebabkan tingginya angka anak putus
sekolah. Itu artinya Kiral, Emma, dan semua pegawai percetakan turut serta
dalam menghancurkan masa depan generasi muda. Hal itu sama sekali tidak
membanggakan untuk dipamerkan pada siapa pun, bahkan pada acara temu alumni
manapun. Wajah Kiral merah padam. Malu? Tidak. Kiral merasa terhina, sehina-
hinanya dituduh menghancurkan masa depan bangsa. Sejak saat itu Kiral bertekad
akan menghancurkan masa depan Emma.
Pertemuan ketiga, Emma membuat Kiral mengurungkan niat balas dendamnya. Kiral sudah bermaksud menabrak Emma dengan mobil yang sedang dikemudikannya. Siapa sangka kesempatan itu muncul ketika Kiral sedang iseng berkeliling alun- alun kota dan mendapati Emma sibuk berusaha menyeberang jalan dengan susah payah sambil menenteng- nenteng bawaan berat. Sayangnya rencana tinggal rencana, beberapa detik sebelum Kiral berhasil menabrakkan moncong mobilnya, seorang anak kecil berlari ke arah Emma. Emma melemparkan bawaannya sembarangan lantas menangkap anak kecil itu dengan gesit. Kiral mengerem mendadak hingga suara dencitan bannya memekakkan telinga. Ada benturan yang dirasakan Kiral. Pikirannya langsung kacau, berharap kejadian buruk tidak terjadi. Sayangnya benturan itu memang terjadi. Bawaan Emma yang tampak berat tadi, setelah dilihat dengan jelas ternyata tumpukan koran bekas, jatuh dengan sukses membentur tutup mesin mobil. Begitu otak Kiral mulai sadar sepenuhnya, dia melihat Emma terbaring di tepi trotoar sambil memeluk anak kecil itu. Anak itu menangis histeris, orang tuanya pun histeris, orang- orang yang melihat langsung berkomentar riuh, dan Emma hanya menahan rasa perih yang diderita lengan dan punggungnya. Kiral satu- satunya orang yang mempedulikan Emma. Dia membantu wanita yang dibencinya itu berdiri, membantunya berjalan menepi, memberikan minuman, menawarkan bantuan mengantar Emma ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan pertama. Setelah Emma cukup tenang, dia berkata pada Kiral, “ Terimakasih tidak menabrak kami. Anak itu tidak sadar bahayanya. Ku rasa dia akan sedikit trauma dengan trotoar dan mobil. Syukurlah koran ku tidak merusak mobil mu. Dan terimakasih untuk kebaikan mu.”
Pertemuan ketiga, Emma membuat Kiral mengurungkan niat balas dendamnya. Kiral sudah bermaksud menabrak Emma dengan mobil yang sedang dikemudikannya. Siapa sangka kesempatan itu muncul ketika Kiral sedang iseng berkeliling alun- alun kota dan mendapati Emma sibuk berusaha menyeberang jalan dengan susah payah sambil menenteng- nenteng bawaan berat. Sayangnya rencana tinggal rencana, beberapa detik sebelum Kiral berhasil menabrakkan moncong mobilnya, seorang anak kecil berlari ke arah Emma. Emma melemparkan bawaannya sembarangan lantas menangkap anak kecil itu dengan gesit. Kiral mengerem mendadak hingga suara dencitan bannya memekakkan telinga. Ada benturan yang dirasakan Kiral. Pikirannya langsung kacau, berharap kejadian buruk tidak terjadi. Sayangnya benturan itu memang terjadi. Bawaan Emma yang tampak berat tadi, setelah dilihat dengan jelas ternyata tumpukan koran bekas, jatuh dengan sukses membentur tutup mesin mobil. Begitu otak Kiral mulai sadar sepenuhnya, dia melihat Emma terbaring di tepi trotoar sambil memeluk anak kecil itu. Anak itu menangis histeris, orang tuanya pun histeris, orang- orang yang melihat langsung berkomentar riuh, dan Emma hanya menahan rasa perih yang diderita lengan dan punggungnya. Kiral satu- satunya orang yang mempedulikan Emma. Dia membantu wanita yang dibencinya itu berdiri, membantunya berjalan menepi, memberikan minuman, menawarkan bantuan mengantar Emma ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan pertama. Setelah Emma cukup tenang, dia berkata pada Kiral, “ Terimakasih tidak menabrak kami. Anak itu tidak sadar bahayanya. Ku rasa dia akan sedikit trauma dengan trotoar dan mobil. Syukurlah koran ku tidak merusak mobil mu. Dan terimakasih untuk kebaikan mu.”
Rasa kaget bercampur kelegaan yang datang mendadak
telah membuat pandangan Kiral tidak objektif. Entah mengapa ucapan Emma terasa
bagai doa penghapusan dosa dan membersihkan segala niat jahat yang pernah mengendap
dalam diri Kiral. Kiral merasa dimanusiakan dan diampuni pada waktu yang
bersamaan.
Menjelang pertemuan keempat, Kiral bertekad akan memulai jalinan persahabatan dengan Emma. Dia membeli donat dan latte dalam jumlah banyak untuk dibagi- bagikan pada karyawan percetakan sekaligus pada Emma. Kedatangan Kiral disambut dengan antusias oleh yang lain, namun tidak oleh Emma. Emma sedang menjadi editor paling mengerikan sejagad raya ketika memeriksa cetak naskah yang diserahkan seluruh penyusun. Emma menuliskan catatan perbaikan pada papan tulis besar yang melatar belakangi meja kerjanya seraya mengumumkan kesalahan apa saja yang ditemuinya. Saat Kiral menawarkan donat dan latte, Emma hanya mendengus kesal kemudian menghabiskan segelas latte sekali minum. Bahkan segelas lagi kemudian. Kiral terpesona dengan kekuatan minum Emma dan berniat menawarkan bantuan, dua orang karyawan langsung menariknya menjauh sebelum dia sempat megucapkan apa- apa. Semua karyawan di percetakan menasehatinya agar menjauhi Emma hari itu, demi kebaikan semua orang.
Kiral tertegun lama. Lama sekali. Aneh sekali hatinya terasa nyeri saat itu.
Esok harinya ketika mendistribusikan LKS ke sekolah- sekolah adalah pertemuan ke lima Kiral dengan Emma. Setelah merasa dirinya tidak lebih menarik dari bahan editan Emma, Kiral menghindar dan tidak datang ke percetakan bila tidak penting. Ketika ke percetakan pun, Kiral tidak menemui Emma. Kiral berjuang mengangkat rasa percaya dirinya kembali. Hari ini, ketika dia mau tak mau mempersilakan Emma duduk di sebelah kursi pengemudi di mobilnya, Kiral agak sedikit gugup. Keberuntungan sedang berpihak padanya hari itu. Emma bersikap sangat manis. Tanpa kerutan di dahi, tanpa sentakan penuh emosi. Emma benar- benar menyenangkan. Terasa sekali dia merasa puas dengan hasil kerjanya. Di setiap sekolah, Emma bercakap- cakap dengan ramah pada semua guru. Dia sudah sangat dikenal di kalangan guru. Ketika ada seorang guru yang menggodanya dan bertanya siapa gerangan Kiral ini, Emma membuat hatinya terluka.
“Oh...ini? Kenalkan, Koral, anak pemilik percetakan yang sedang training,” jawab Emma santai sembari melirik Kiral sekilas, “Koral, ini Bu Hesty, wakil kepala sekolah sini.”
Training? Lulusan fakultas ekonomi perguruan tinggi terkenal dengan gelar cumlaude, mantan tenaga ahli bagian pemasaran perusahaan minuman soda, disebut Emma sedang training di percetakan kecil? Lebih buruk lagi, dia menyebutnya Koral? K-O-R-A-L?! Semacam batu coral?! Dan Kiral jatuh hati pada Emma yang menyebutnya Koral? Oh....sungguh sulit dipercaya.
Wakil kepala sekolah itu pun tidak percaya. Bu Hesty kebingungan sendiri mendengar nama Koral. “Semacam batu coral?”, pikir Bu Herti dalam hati.
Dengan perasaan dongkol, Kiral menyetir ugal-ugalan ketika balik menuju kantor. Daam hati Emma berdoa semoga mereka tidak mengalami kecelakaan.
Menjelang pertemuan keempat, Kiral bertekad akan memulai jalinan persahabatan dengan Emma. Dia membeli donat dan latte dalam jumlah banyak untuk dibagi- bagikan pada karyawan percetakan sekaligus pada Emma. Kedatangan Kiral disambut dengan antusias oleh yang lain, namun tidak oleh Emma. Emma sedang menjadi editor paling mengerikan sejagad raya ketika memeriksa cetak naskah yang diserahkan seluruh penyusun. Emma menuliskan catatan perbaikan pada papan tulis besar yang melatar belakangi meja kerjanya seraya mengumumkan kesalahan apa saja yang ditemuinya. Saat Kiral menawarkan donat dan latte, Emma hanya mendengus kesal kemudian menghabiskan segelas latte sekali minum. Bahkan segelas lagi kemudian. Kiral terpesona dengan kekuatan minum Emma dan berniat menawarkan bantuan, dua orang karyawan langsung menariknya menjauh sebelum dia sempat megucapkan apa- apa. Semua karyawan di percetakan menasehatinya agar menjauhi Emma hari itu, demi kebaikan semua orang.
Kiral tertegun lama. Lama sekali. Aneh sekali hatinya terasa nyeri saat itu.
Esok harinya ketika mendistribusikan LKS ke sekolah- sekolah adalah pertemuan ke lima Kiral dengan Emma. Setelah merasa dirinya tidak lebih menarik dari bahan editan Emma, Kiral menghindar dan tidak datang ke percetakan bila tidak penting. Ketika ke percetakan pun, Kiral tidak menemui Emma. Kiral berjuang mengangkat rasa percaya dirinya kembali. Hari ini, ketika dia mau tak mau mempersilakan Emma duduk di sebelah kursi pengemudi di mobilnya, Kiral agak sedikit gugup. Keberuntungan sedang berpihak padanya hari itu. Emma bersikap sangat manis. Tanpa kerutan di dahi, tanpa sentakan penuh emosi. Emma benar- benar menyenangkan. Terasa sekali dia merasa puas dengan hasil kerjanya. Di setiap sekolah, Emma bercakap- cakap dengan ramah pada semua guru. Dia sudah sangat dikenal di kalangan guru. Ketika ada seorang guru yang menggodanya dan bertanya siapa gerangan Kiral ini, Emma membuat hatinya terluka.
“Oh...ini? Kenalkan, Koral, anak pemilik percetakan yang sedang training,” jawab Emma santai sembari melirik Kiral sekilas, “Koral, ini Bu Hesty, wakil kepala sekolah sini.”
Training? Lulusan fakultas ekonomi perguruan tinggi terkenal dengan gelar cumlaude, mantan tenaga ahli bagian pemasaran perusahaan minuman soda, disebut Emma sedang training di percetakan kecil? Lebih buruk lagi, dia menyebutnya Koral? K-O-R-A-L?! Semacam batu coral?! Dan Kiral jatuh hati pada Emma yang menyebutnya Koral? Oh....sungguh sulit dipercaya.
Wakil kepala sekolah itu pun tidak percaya. Bu Hesty kebingungan sendiri mendengar nama Koral. “Semacam batu coral?”, pikir Bu Herti dalam hati.
Dengan perasaan dongkol, Kiral menyetir ugal-ugalan ketika balik menuju kantor. Daam hati Emma berdoa semoga mereka tidak mengalami kecelakaan.
Hari minggu merupakan hari libur yang amat dinanti-nantikan Kiral. Hari minggu adalah hari bebas bertemu Emma, begitu pikir Kiral. Sayangnya pikirannya salah total.
Emma sedang bersepeda santai di hari libur ketika tak sengaja melihat Kiral makan bubur ayam dengan lesu di sudut alun- alun kota. Terdorong rasa penasaran, Emma pun masuk warung bubur ayam itu dan memesan semangkok. Emma berharap Kiral mengenalinya, namun Kiral sama sekali tidak melihat ke arahnya, apalagi mengajaknya bergabung. Emma ragu- ragu dengan identitas Kiral. Dia memutuskan duduk di meja yang ada di seberang meja Kiral. Mengamati orang yang entah mengapa tampak berantakan dan sedikit mirip Kiral. Emma masih terus mengamati orang itu sembari makan bubur ayamnya. Dia bertanya- tanya dalam hati, “ Apa dia saudara si Koral ya?”
Emma sedang bersepeda santai di hari libur ketika tak sengaja melihat Kiral makan bubur ayam dengan lesu di sudut alun- alun kota. Terdorong rasa penasaran, Emma pun masuk warung bubur ayam itu dan memesan semangkok. Emma berharap Kiral mengenalinya, namun Kiral sama sekali tidak melihat ke arahnya, apalagi mengajaknya bergabung. Emma ragu- ragu dengan identitas Kiral. Dia memutuskan duduk di meja yang ada di seberang meja Kiral. Mengamati orang yang entah mengapa tampak berantakan dan sedikit mirip Kiral. Emma masih terus mengamati orang itu sembari makan bubur ayamnya. Dia bertanya- tanya dalam hati, “ Apa dia saudara si Koral ya?”
Sementara kejadian yang tampak janggal itu berlangsung, si pemilik warung hanya bisa bengong menunggu dua pembeli yang tersisa itu membayar.
“ Keterlaluan,” batin Kiral kesal. Nafasnya memburu karena marah. Dia berjuang untuk tidak menyapa atau menatap mata Emma demi menguji tingkat kepedulian Emma terhadap dirinya. Terbukti sudah, Emma bahkan tak mengenalinya yang hanya mengenakan kaos lusuh, celana jins lama, dan sendal karet. Terlintas dalam benaknya bahwa Emma adalah wanita matre yang hanya tertarik pada anak pemilik percetakan yang membawa mobil.
Dengan hati hancur, Kiral membayar bubur ayamnya dan langsung pergi begitu saja tanpa menyadari lembaran uangnya lima puluh ribu.
Kali ini si pemilik warung makin bengong. Harus bersyukur atau merasa bersalah? Belum selesai dia terheran- heran, Emma sudah menatapnya penuh rasa ingin tahu. “ Bapak kenal orang tadi?”
“ Neng kenal?” seketika tampak secercah harapan untuk menitipkan uang kembalian pada mbak- mbak yang ada di hadapannya saat ini. Emma mengangguk mantap.
Kiral berjalan lesu tanpa arah sejak dari warung bubur ayam tadi. Dia meratapi pertemuan keenamnya yang menyakitkan. Tanpa sadar Kiral masuk ke warnet kira- kira berjarak lima ratus meter dari alun- alun kota. Begitu masuk ke bilik, Kiral hanya menatap kosong monitor di hadapannya. Saat terdenggar sayup- sayup lagu dengan lirik “....coz i can’t stop thinking about u girl...” membahana di warnet itu, Kiral membulatkan tekad untuk mengusir pikiran tentang Emma. Dia mencurahkan rasa frustasinya dengan main game online hingga enam jam.
Kiral merasa lapar. Dia tertawa sendiri menyadari bahwa jam makan siang sudah lewat dari tadi, sedangkan perutnya masih kosong. Dia memutuskan untuk mengakhiri pertarungannya di dunia maya. Suasana hatinya sudah jauh lebih baik sekarang. Kiral menyadari bahwa tanpa ada wanita aneh yang menarik perhatiannya, dunia tetap berjalan, game online tetap tersedia, dan pekerjaan tetap harus dilanjutkan. Kiral keluar dari warnet dengan perasaan optimis menghadapi hari esok yang lebih baik.
Kiral lupa bahwa dirinya berjalan kaki saja ketika memutuskan pergi ke alun- alun. Saat ini sengatan matahari yang terik dan perut keroncongan adalah masalah utama yang benar- benar menyita pikirannya. Dalam hati Kiral mengajukan protes pada Tuhan, mengapa ketika dirinya memiliki optimisme yang menggebu, dia harus menghadapi kenyataan dunia yang pahit. Rumahnya masih dua kilo meter dari warnet itu. Kiral menghela nafas frustasi.
Setibanya dirumah, Kiral lebih frustasi lagi. Seperti mendapat peringatan dari Tuhan bahwa dibalik penderitaan yang kau rasakan masih ada penderitaan lain yang lebih menyakitkan di dunia ini. Berjalan dua kilo meter menembus terik matahari dengan perut lapar masih belum ada apa- apanya daripada mendapati Emma sedang duduk santai di serambi menunggu kedatangannya. Kali ini Emma memang menunggu kedatangannya. Pak Darwis, sopir sekaligus abdi keluarga Kiral, mengabarkan rentang waktu yang dihabiskan Emma menunggu kedatangan majikan mudanya. Kiral hanya bisa diam menahan frustasi.
Pertemuan ke tujuh yang tidak diharapkan, batin Kiral
Dengan sedikit canggung, Kiral menghampiri Emma. "Ada apa kau ke mari?" katanya galak.
Emma mengamatinya dengan teliti hingga Kiral merasa risih. "Woi!"
Emma agak terkejut dengan seruan Kiral. Sejenak, terbersit rasa bersalah dalam hatinya.
"Emm..... Aha! Kau tadi meninggalkan uang kembalian mu." kata Emma sembari merogoh kantong. Dia mengeluarkan setumpuk uang lusuh.
"Kembalian apa?"
"Tadi kamu beli bubur di alun-alun kan?"
"Enggak, aku dari warnet." Kiral menyangkal.
"Bohong," kata Emma polos. "Ketemu ga nyapa."
"Ih, kamu tuh yang ga nyapa."
"Berarti benar kan tadi kamu beli bubur ayam."
Sial! batin Kiral. dia keceplosan.
Menutupi rasa kesalnya Kiral merebut tumpukan uang lusuh dari genggaman Emma. Dia langsung mengantonginya tanpa pikir panjang. Kemudian dia menyentuh bahu Emma dengan kedua tangannya, mengarahkan agar rekan kerjanya itu segera meninggalkan rumah.
"Lho....kok....?" tanya Emma bingung.
"Sana pulang. Urusan mu sudah selesai kan?" Kiral mendorong Emma hingga pintu gerbang. Dia mendorong Emma melewati batas gerbang, kemudia menutup gerbang itu seceepat mungkin, menggemboknya, mengantongi kuncinya lalu beranjak masuk.
Emma malah menggedor-gedor gerbang. "Kiral.....buka gerbangnya! Hoooii....!!!"
Apa lagi sih?! batin Kiral. Apa tidak cukup cewek itu membuatnya frustasi?!
Dengan kesal Kiral menghentikan langkahnya, berbalik lantas balas berteriak, "Apa lagi sih?!"
"Sepeda ku masih di dalam bodoh!" seru Emma sengit.
Kiral mengerutkan dahi. Dia meneliti halaman rumahnya dan benar saja, ada sepeda terparkir rapi di sebelah mobilnya. "Hais!" umpatnya kesal.
Kiral lantas menuntun sepeda itu, mengambil kunci di sakunya, membuka gerbang, mendorong sepeda itu keluar yang langsung disambut Emma. Begitu sepeda itu berada di tangan pemiliknya, Kiral kembali menutup gerbang dan menguncinya.
"Sana pulang!"
"Iya! Ga kamu suruh aku juga bakal pulang!"
Kiral sedikit lega karena tahu Emma segera mgnhilang dari rumahnya.
"Woi!" seru Emma dari luar mengagetkan Kiral yang setengah melamun sambil memegangi gembok.
"Apa lagi?!"
"Asalamu'alaikum!"
"Wa'alaikum salam!"
Kiral menjulurkan telinganya, memastikan suara sepeda Emma menjauh. Setelah yakin, dia mengintip apakah Emma benar-benar pergi atau belum. Dia melihat Emma melaju sepedanya dengan santai meninggalkan rumahnya.
"Pacarnya ya, Mas?" tanya Pak Darwis sembari menepuk bahu Kiral. Kiral berteriak kaget.
Dengan sedikit canggung, Kiral menghampiri Emma. "Ada apa kau ke mari?" katanya galak.
Emma mengamatinya dengan teliti hingga Kiral merasa risih. "Woi!"
Emma agak terkejut dengan seruan Kiral. Sejenak, terbersit rasa bersalah dalam hatinya.
"Emm..... Aha! Kau tadi meninggalkan uang kembalian mu." kata Emma sembari merogoh kantong. Dia mengeluarkan setumpuk uang lusuh.
"Kembalian apa?"
"Tadi kamu beli bubur di alun-alun kan?"
"Enggak, aku dari warnet." Kiral menyangkal.
"Bohong," kata Emma polos. "Ketemu ga nyapa."
"Ih, kamu tuh yang ga nyapa."
"Berarti benar kan tadi kamu beli bubur ayam."
Sial! batin Kiral. dia keceplosan.
Menutupi rasa kesalnya Kiral merebut tumpukan uang lusuh dari genggaman Emma. Dia langsung mengantonginya tanpa pikir panjang. Kemudian dia menyentuh bahu Emma dengan kedua tangannya, mengarahkan agar rekan kerjanya itu segera meninggalkan rumah.
"Lho....kok....?" tanya Emma bingung.
"Sana pulang. Urusan mu sudah selesai kan?" Kiral mendorong Emma hingga pintu gerbang. Dia mendorong Emma melewati batas gerbang, kemudia menutup gerbang itu seceepat mungkin, menggemboknya, mengantongi kuncinya lalu beranjak masuk.
Emma malah menggedor-gedor gerbang. "Kiral.....buka gerbangnya! Hoooii....!!!"
Apa lagi sih?! batin Kiral. Apa tidak cukup cewek itu membuatnya frustasi?!
Dengan kesal Kiral menghentikan langkahnya, berbalik lantas balas berteriak, "Apa lagi sih?!"
"Sepeda ku masih di dalam bodoh!" seru Emma sengit.
Kiral mengerutkan dahi. Dia meneliti halaman rumahnya dan benar saja, ada sepeda terparkir rapi di sebelah mobilnya. "Hais!" umpatnya kesal.
Kiral lantas menuntun sepeda itu, mengambil kunci di sakunya, membuka gerbang, mendorong sepeda itu keluar yang langsung disambut Emma. Begitu sepeda itu berada di tangan pemiliknya, Kiral kembali menutup gerbang dan menguncinya.
"Sana pulang!"
"Iya! Ga kamu suruh aku juga bakal pulang!"
Kiral sedikit lega karena tahu Emma segera mgnhilang dari rumahnya.
"Woi!" seru Emma dari luar mengagetkan Kiral yang setengah melamun sambil memegangi gembok.
"Apa lagi?!"
"Asalamu'alaikum!"
"Wa'alaikum salam!"
Kiral menjulurkan telinganya, memastikan suara sepeda Emma menjauh. Setelah yakin, dia mengintip apakah Emma benar-benar pergi atau belum. Dia melihat Emma melaju sepedanya dengan santai meninggalkan rumahnya.
"Pacarnya ya, Mas?" tanya Pak Darwis sembari menepuk bahu Kiral. Kiral berteriak kaget.
OK. Memang kemarin itu sikap Kiral keterlaluan. Semua gara-gara akal sehatnya lenyap bila dekat-dekat Emma. Pagi ini, dengan pakaian rapi dia bertekad akan bersikap cool di depan Emma.
Namun harapannya hanya tinggal harapan.
Emma menyerahkan surat pengunduran diri di mejanya segera setelah dia datang. Kiral menatap Emma kosong.
"Bukan karena kamu kemarin kok," jelas Emma.
"Lalu?"
"Aku pingin pindah."
"Pindah ke mana?"
Emma tidak langsung menjawab. Pasti Kiral tampak kacau sekali. "Ke Jakarta."
"Ngapain?"
"Kerja."
"Kerja dimana?"
"Di koran nasional."
"Lalu tanggungjawab mu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa kau tinggalkan?" kata Kiral galak. Membalik kata-kata Emma dulu, saat dia menuduh Kiral menghancurkan masa depan bangsa.
"Aku kan bukan guru."
"Tapi kau membantu guru menyusun soal untuk mencerdaskan siswanya."
Emma menunduk. Dia memelintir-lintir ujung hemnya. "Tidak begitu kan? Kan masih ada staf lain......."
"Memangnya staf lain bisa menggantika mu?!" bentak Kiral.
Kiral langsung memarahi dirinya sendiri. Kenapa dia harus begitu kasar pada Emma. Dia pria berpendidikan yang dapat menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Namun siapa dia saat ini? Bos galak.
"Maksudku buka begitu Emma," katanya penuh penyesalan.
"Aku mengerti kok."
"Lantas?"
"Sebenarnya aku ragu pindah kerja."
"Lha? Lantas untuk apa surat pengunduran diri ini?" Kiral mengacung-acungkan surat pengunduran diri Emma, lalu menyobeknya.
"Terlanjur ku tulis. Itu ku tulis dua bulan lalu, sebelum kamu pindah ke sini."
"Jadi karena terlanjur kau tulis, surat ini kau serahkan?" Krial frustasi.
Emma mengangguk mantab. "Sudah kau sobek, berarti sudah tidak berlaku kan?"
Kiral menatap Emma tajam, lalu menatap sobekan surat pengunduran diri Emma yang berserakan di lantai kantornya. "Iya sudah sobek," jawab Kiral sekenanya.
"Aku tidak jadi pingin pindah."
"Kenapa?"
"Aku suka pada mu. Mau bagaimana lagi. Kalau aku pindah, aku tak bisa ketemu dengan mu lagi," jawab Emma polos.
Kiral terpaku.
"Ya sudah. Aku akan kerja dulu." Emma berkata dengan riang. Emma lantas mendekati Kiral, berjinjit, lantas mencium pipi Kiral. "Kamu manis sih."
Tanpa berkata lagi Emma meninggalkan kantor Kiral dengan sedikit lari-lari kecil.
"Oh, apa ini? Permainan mu?" Kiral mengumpat dalam hati.
"Kau memang keterlaluan Emma!" Kiral mengakui, bahwa Emma memang keterlaluan dalam mengambil hatinya.
Sejak saat itu, Emma memang masih bersikap seenaknya, tapi perhatiannya pada Kiral tulus dan berlanjut terus.
Kiral yang sudah mengerti dan menyadari perasaannya sudah tidak hilang kendali lagi. Dia bisa mengendalikan diri tiap kali bertemu Emma sebagai karyawan perusahaannya atau sebagai kekasihnya di luar kantor.
Hubungan mereka berjalan serius hingga mereka menikah kira-kira setahun kemudian.
Ah....cerita yang aneh ^^
Namun harapannya hanya tinggal harapan.
Emma menyerahkan surat pengunduran diri di mejanya segera setelah dia datang. Kiral menatap Emma kosong.
"Bukan karena kamu kemarin kok," jelas Emma.
"Lalu?"
"Aku pingin pindah."
"Pindah ke mana?"
Emma tidak langsung menjawab. Pasti Kiral tampak kacau sekali. "Ke Jakarta."
"Ngapain?"
"Kerja."
"Kerja dimana?"
"Di koran nasional."
"Lalu tanggungjawab mu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa kau tinggalkan?" kata Kiral galak. Membalik kata-kata Emma dulu, saat dia menuduh Kiral menghancurkan masa depan bangsa.
"Aku kan bukan guru."
"Tapi kau membantu guru menyusun soal untuk mencerdaskan siswanya."
Emma menunduk. Dia memelintir-lintir ujung hemnya. "Tidak begitu kan? Kan masih ada staf lain......."
"Memangnya staf lain bisa menggantika mu?!" bentak Kiral.
Kiral langsung memarahi dirinya sendiri. Kenapa dia harus begitu kasar pada Emma. Dia pria berpendidikan yang dapat menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Namun siapa dia saat ini? Bos galak.
"Maksudku buka begitu Emma," katanya penuh penyesalan.
"Aku mengerti kok."
"Lantas?"
"Sebenarnya aku ragu pindah kerja."
"Lha? Lantas untuk apa surat pengunduran diri ini?" Kiral mengacung-acungkan surat pengunduran diri Emma, lalu menyobeknya.
"Terlanjur ku tulis. Itu ku tulis dua bulan lalu, sebelum kamu pindah ke sini."
"Jadi karena terlanjur kau tulis, surat ini kau serahkan?" Krial frustasi.
Emma mengangguk mantab. "Sudah kau sobek, berarti sudah tidak berlaku kan?"
Kiral menatap Emma tajam, lalu menatap sobekan surat pengunduran diri Emma yang berserakan di lantai kantornya. "Iya sudah sobek," jawab Kiral sekenanya.
"Aku tidak jadi pingin pindah."
"Kenapa?"
"Aku suka pada mu. Mau bagaimana lagi. Kalau aku pindah, aku tak bisa ketemu dengan mu lagi," jawab Emma polos.
Kiral terpaku.
"Ya sudah. Aku akan kerja dulu." Emma berkata dengan riang. Emma lantas mendekati Kiral, berjinjit, lantas mencium pipi Kiral. "Kamu manis sih."
Tanpa berkata lagi Emma meninggalkan kantor Kiral dengan sedikit lari-lari kecil.
"Oh, apa ini? Permainan mu?" Kiral mengumpat dalam hati.
"Kau memang keterlaluan Emma!" Kiral mengakui, bahwa Emma memang keterlaluan dalam mengambil hatinya.
Sejak saat itu, Emma memang masih bersikap seenaknya, tapi perhatiannya pada Kiral tulus dan berlanjut terus.
Kiral yang sudah mengerti dan menyadari perasaannya sudah tidak hilang kendali lagi. Dia bisa mengendalikan diri tiap kali bertemu Emma sebagai karyawan perusahaannya atau sebagai kekasihnya di luar kantor.
Hubungan mereka berjalan serius hingga mereka menikah kira-kira setahun kemudian.
Ah....cerita yang aneh ^^




Tidak ada komentar:
Posting Komentar