Translate

Tampilkan postingan dengan label Pandawa vs Kalina. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pandawa vs Kalina. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Maret 2013

Pandawa vs Kalina ep.7

Like Our FB Please

Kalina sedang membaca eksiklopedia mengenai migrasi paus bungkuk, ketika Yeshi datang dengan wajah pucat, diiringi Hera. Tumben sekali dua temannya ini mau menginjakkan kaki ke perpustakaan. Mereka lebih suka bertanya pada Kalina, daripada membaca buku di perpustakaan. Dengan sedikit heran, Kalina memperhatikan keduanya menarik kursi, lalu duduk di hadapannya.

“Ka, kamu harus janji sama aku,” kata Yeshi sarat emosi.
Kalina mengangkat alis kirinya. Dia memandang Hera, menuntut penjelasan.

“ Beneran, Ka, kamu harus janji dulu sama aku,” pinta Yeshi putus asa. Yeshi langsung merebut buku Kalina, menutupnya, dan mendekap buku itu.

“Ada apa, Yes? Tenangkan dulu pikiran mu,” kata Kalina mengerti. Dia menduga temannya sedang dalam kesulitan.

“Pokoknya kamu janji dulu sama aku, Ka.”

“Iya, aku janji. Ada apa ini? Jelasin dong,” Kalina penasaran.

“Kamu ga boleh naksir ayank Pradana, Ka. Ga boleh.”

“Hhh....” Kalina menahan tawa, “Astaga, Yes. Ngapain aku naksir dia?”

“Kamu bisa aja naksir dia, Ka. Kalian kan ditunjuk kepala sekolah untuk lomba bareng. Pokoknya kamu udah janji sama aku, Ka. Kamu ga boleh melanggar janji.” Kata Yeshi dengan wajah serius. “Janji itu hutang, Ka.”

“Iya. Aku janji,” jawab Kalina tegas.

Yeshi langsung merasa lega. Dia mengendurkan syaraf-syaraf tubuhnya. Janji Kalina seakan oase yang menyejukkan di tengah padang pasir.

Melihat temannya sudah lega, Kalina mencoba mencari tahu lebih mendetail pada Hera, “Memangnya lomba apa, Her? Bukannya aku maju sendirian, ya?”

“Ampun deh, Ka......kamu ga ngerti apa pura-pura ga ngerti sih?” Hera menepuk dahinya. “Pradana barusan dipanggil kepala sekolah. Dia ditunjuk mewakili SMA Pancasila lomba pidato “Sudut Pandang Pemuda Terhadap Politik” bareng sama lomba siswa teladan mu.”

“Oh.....”

“Kok Cuma ‘Oh’?! Kalian udah lomba bareng sekali kan, Ka?” rengek Yeshi. “OK, tahun lalu kamu bisa menghindari pesona ayank Pradana. Tapi kan tahun lalu dia ga seganteng sekarang, Ka. Jangan-jangan, ntar kamu naksir dia pas lomba bareng itu.”

“Hmm? Lomba bareng? Kapan ya?”

Hera dan Yeshi saling berpandangan. Mereka menghela nafas bersamaan. Memang benar Kalina bintang kelas, tapi dia kadang-kadang lemot, apalagi untuk urusan laki-laki.

“ Tahun lalu kalian dikirim untuk ikut lomba yang sama kan, Ka? Yang di Universitas NKRI itu lho,” kata Yeshi agak jengkel.

Kalina mencoba mengingat. Memang dia pernah ikut lomba di Universitas NKRI sih, tapi sendirian. Pradana itu yang mana ya? “Aa...aku ingat! Aku lomba sendirian kok.”

“Lha?!” seru Yeshi dan Hera berbarengan. “Trus Pradana kemana?”

“Tempat lomba kami terpisah. Dia kategori kelas 1 kan? Dia lomba di gedung Fakultas Kedokteran Hewan. Aku kategori kelas dua, di gedung Kuliah Bersama.”

“Ooooh......” jawab Yeshi dan Hera bersamaan. Lega campur baru ngeh kalo ternyata tempat lombanya terpisah.
****

“Pret! Beneran kamu ditunjuk lomba bareng Kalina?” tanya Yudis dengan antusias. Dia langsung bergegas ke kelas 11-A begitu mendengar kabar itu, karena ingin memastikan langsung pada Pradana.

Pradana tersenyum bangga, sambil membetulkan dasinya.

Yudis langsung lemas. Dia terduduk penuh penyesalan di kursi Yasir. Kebetulan Yasir sedang berdiri bersandar pada dinding. “Aku menyesal kenapa tahun lalu ga ikut lomba pidato,” gumam Yudis lesu.

“Tenang, Bro. Kamu ga bakal kalah dari siapa pun kalo lomba menerjemahkan morse,” jawab Pradana sambil cengar-cengir.

“Apa gunanya itu?” jawab Yudis pasrah. Galih, Raka, dan Yasir menepuk bahu Yudis bergantian, berusaha memberi semangat sahabatnya satu itu.

“Yakin nih kalian bakal satu gedung? Tahun lalu aja beda kan?” tanya Galih ragu.

“Kali ini, tempat lomba kami satu gedung, jadi ga bakal deh berangkat sendiri-sendiri kayak tahun lalu. Heuw! Ga sabar aku,” kata Pradana semangat.

“Heeeehh....kamu benar-benar beruntung, Pret.” Yudis lantas memperlihatkan wajah yang mencerminkan datangnya kiamat esok hari.

“Santai, Bro. Nanti kalo aku berhasil kenalan sama Kalina, aku bakal minta nomer telponnya. Nah, kalo sudah dapet.......,” Pradana sengaja menggantung kalimatnya.

“Kalo sudah dapet.....?” sahut Yudis membeo, penuh harap.

“Kalo sudah dapet nomer telponnya.....ku simpan sendiri. Hahahahahahahaha..!!” Pradana puas. Akhirnya dia bisa menggoda Yudis. Kapan lagi ada kesempatan sebagus ini?

“Hahahaha...!!” Galih dan Raka langsung tertawa mendengar candaan Pradana. Sebaliknya, Yudis malah semakin terpuruk dan lesu.

Disaat yang lain sedang menikmati kegetiran Yudis, tiba-tiba Yasir menyahut dengan polosnya, “Kalau Pradana ga mau ngasih tau, biar aku yang kasih tahu nomer telpon Kak Kalina.”

“HAA?!” sontak keempat temannya langsung menatap Yasir penuh tanya.

“Kamu punya nomer telpon Kalina?!” tanya mereka kompak.

(^o^)v


Pagi itu tanggal tujuh belas, maka diadakanlah upacara bendera. Banyak sih yang sebel ikut upacara. Namun tidak bagi Kalina. Menurut dugaan Hera dan Yeshi, upacara itu amat sesuai dengan karakter Kalina, protokoler dan kaku. Namun menurut Kalina sendiri upacara adalah satu-satunya kegiatan yang sama persis dilakukan oleh pendiri bangsa ini sejak Indonesia merdeka hingga sekarang. Contoh, upacara pertama adalah proklamasi Indonesia yang diikuti Bung Karno dan Bung Hata. Hanya dari upacaralah Kalina dapat merasakan sejarah yang diulang secara langsung. Sebab sejarah yang lain tak mungkin terulang, misal gerakan G-30S PKI, ga mungkin Kalina berkesempatan merasakan itu kan? Nah, hanya dengan upacara inilah, Kalina seakan menjadi salah satu tonggak berdirinya bangsa ini secara nyata. Dan ini pun hanya sekali sebulan. Betapa sedikit kesempatannya, batin Kalina.

Pada kesempatan upacara kali ini pun, ada yang merasa bahagia karena upacara itu ada. Yudistira. Hari ini dia ditunjuk sebagai komandan pleton tiga. Artinya dia akan memimpin barisan kelas tiga. Artinya dia akan berdiri di sebelah kanan barisan, tepat di sebelah Kalina biasa berdiri. Sungguh, baru memikirkan upacara hari ini pun, Yudis tak bisa tidur nyenak semalam.

Maka, ketika siswa lain masih bercerita tentang jalan cerita sinetron semalam, Yudis bersama tiga teman sekelasnya sudah berkumpul melakukan persiapan upacara. Satu sebagai komandan upacara, sementara Yudis dan dua lainnya ditunjuk sebagai komandan pleton. Karena Raka adalah aset PMR yang berharga, dia  selalu bertugas sebagai tenaga kesehatan.

“Kamu yakin ga apa-apa, Bro?” tanya Raka khawatir. “ Wajah mu pucat,” katanya dengan muka serius. Dia lantas memeriksa denyut nadi , warna kelopak mata bagian dalam, dan suhu dahi Yudis.

Yudis menatap sahabatnya dengan penuh keyakinan. “Halah. Bercanda mu ga lucu. Peserta jambore kok lemah,” jawab Yudis sembari menampik tangan Raka.  
                                                                                                                                                                  Raka tertawa ngikik. Dia sedang berusaha menggagalkan impian Yudis menjadi komandan pleton tiga. Awalnya Yudis ditunjuk jadi komandan upacara. Namun, menilik menimbang dampaknya terhadap histeria PFC, Pak Satrio menukar posisi Yudis dengan komandan pleton tiga. Rupanya usaha Raka tidak berhasil. Jelas tidak berhasil, Yudis itu praja muda karana tangguh dan lulus banyak ujian kecakapan. Tak mungkin dia jatuh sakit hanya gara-gara tidak nyenyak tidur semalaman. 

“Ingat, Bro, begitu ada tanda-tanda Kalina mau pingsan, langsung panggil aku. Aku akan jaga di belakang pleton tiga,” Raka memberikan pesan terakhirnya, lengkap dengan kedipan mata, sebelum bergabung dengan tim PMR sekolah.

Ketika Bel masuk berbunyi, semua siswa SMA Pancasila Sakti bergegas ke lapangan. Berhubung Hera masih menjadi anggota PMR, maka dia bergabung dengan tim kesehatan. Yeshi jelas ingin berada di depan, karena gosipnya salah satu dari Pandawa menjadi komandan upacara. Sementara Kalina kalem saja berada di baris terdepan.

Begitu protokol dibacakan, semua siswa berusaha untuk diam. Sebagian besar siswi berharap salah satu Pandawa menjadi komandan upacara. Sayangnya dugaan mereka salah. Komandan upacaranya bukan Pandawa. Yudis sudah berharap berdiri tepat di samping Kalinan. Sayangnya dugaannya salah. Barisan anak 12-A berada pada bagian paling kiri pleton tiga. Temannya salah meletakkan urutan papan kelas. Bahkan hari itu mereka mendapatkan pembina upacara Pak Gunadi, yang senang sekali berpidato hingga kaki semua peserta upacara mulai kesemutan. Alhasil banyak siswi yang mendadak pingsan. Beberapa sengaja pingsan sih agar bisa beristirahat.  Tim PMR langsung dipanggil bertugas, meski hari itu bukan jadwalnya bertugas. Begitu pun tenaga kesehatan masih kewalahan. Akhirnya, demi kemaslahatan siswi-siswi yang pingsan, Hera meminta bantuan Kalina dan Yeshi.

“Please, kami kurang orang,” pinta Hera sambil berbisik, ketika menyusup ke barisan upacara.
Alhasil, Kepala sekolah memberi kode agar Pak Gunadi segera menyelesaikan pidatonya. Protokol langsung mempercepat jalannya upacara. Akhirnya, upacara dibubarkan.

Hiruk pikuk peserta upacara yang ingin segera berteduh bercampur dengan hirup pikuk tim kesehatan memberikan pertolongan pada pasien. Yudis akhirnya turun tangan membantu evakuasi pasien. Begitu tugasnya selesai, Yudis langsung mencari Raka. Dua sahabat itu langsung bahu-membahu mengangkat siswi yang pingsang dengan dragbar. Ditengah kesibukan itulah, tanpa sengaja Kalina menubruk Yudis. Kotak P3K yang dibawa Kalina terpelanting, beruntung langsung bisa ditangkap Yudis.

“Wah, maaf dan terimakasih,” kata Kalina singkat. Dia langsung berlari menghampiri Hera yang sedang mengoleskan minyak angin pada seorang anak kelas 9.

Yudis sempat terpesona. Dia sempat tertegun tiga detik. Namun lamunannya segera buyar oleh teriakan Raka, “Bro, masih ada seorang lagi!”

“OK!” Yudis segera berlari membawa dragbar menyusul Raka. Meski hari itu semua kacau, Yudis bersyukur diberi kesempatan bertemu Kalina walau beberapa detik saja.
(^o^)v

[bersambung...]





Rabu, 06 Februari 2013

Pandawa vs Kalina ep.6


Pandawa Fans Club merasa berang. Tentu saja mereka berang. Idola mereka, Raka dan Yudis, mendapat teguran dari Kepala Sekolah gara-gara cewek sok keren, sok pinter, sok paling hebat di sekolah, Kalina. Memangnya salah siapa tu cewek jalan-jalan di sekitar lapangan? Memangnya Raka dan Yudis tahu kalo bakal ada kandidat siswa teladan yang bakal keluyuran di sekitar lapangan? Enggak kan?!

Raka dan Yudis ga bersalah samasekali. Mereka main bola sebagaimana mestinya. Toh kadang-kadang memang ada bola yang melesat keluar lapangan dan membentur dinding kelas, tapi karena jam pelajaran, jadi ga ada yang keluyuran di sekitar lapangan dan ga ada yang pernah kena bola nyasar, kecuali si cewek sok keren itu. Lagipula Raka dan Yudis langsung menolong cewek itu dengan sigap. Kalo bukan karena Raka, mana bisa cewe itu udah bisa jalan-jalan pas jam istirahat. Lagipula lukanya ga seberapa, cuma lecet dikit. Begitu saja dibesar-besarkan.

Maka, muncullah kesepakatan dalam tubuh Pandawa Fans Club, bahwa mulai hari ini, mulai detik ini, mereka akan membuat pembalasan pada siKalina. Berhubung mereka semua cinta damai dan ga pengen dibenci oleh Pandawa, mereka akan mengalahkan siKalina dengan cara positif, yaitu membuat Kalina tidak lagi rangking satu!

Yosh! Semangat PFC!
*****

Jika di SMA Pancasila Sakti terbentuk PFC, maka Kalina Lovers sudah berdiri bahkan sebelum PFC ada. Kalina Lovers tak pernah menunjukkan keberadaan mereka terang-terangan. Kalina Lovers ibarat ninja yang melindungi tanpa menunjukkan keberadaan dirinya. KL (baca Key eL) sudah berhasil menggagalkan 2 kasus serius, 37 tipu muslihat, dan 284 upaya pencemaran nama baik  yang ditujukan pada Kalina. Bukan hanya itu, KL merupakan sponsor utama pembuatan spanduk dukungan dan ucapan selamat  yang kadang muncul begitu saja di gerbang sekolah tanpa diketahui siapa yang membuatnya. Toh, SMA Pancasila sakti mengakui prestasi Kalina, jadi spanduk-spanduk itu tidak diturunkan.

Lalu bagaimana reaksi PFC jika bertemu KL? Tak ada reaksi. Karena PFC tak pernah tau siapa saja anggota KL. Kabarnya, rekruitmen KL amat ketat dan rahasia. Tidak sembarang siswa yang berkoar-koar ngefans Kalina bisa langsung menjadi anggota KL. Ada semacam tes kelayakan. Bukan dengan menjawab pertanyaan seputar Kalina, misal “Kapan Kalina ultah? Apa warna favorit Kalina?”. No! Itu pertanyaan ga penting banget. Anggota KL haruslah orang-orang yang otaknya bisa disetarakan dengan Kalina, gosipnya sih begitu. Minimal, calon anggota KL harus memiliki prestasi setingkat kabupaten. Berhubung desas-desus rekruitmen KL sedemikian sulitnya, banyak siswa-siswa yang menyerah sebelum berniat mendaftar sebagai anggota KL. Itulah mengapa, jumlah anggota KL tidak berubah, dari awal terbentuk, hingga sekarang.

Kadang, Hera dan Yeshi menuduh, bahwa Kalina tahu siapa saja anggota KL. Namun Kalina selalu membantah. Dia sendiri merasa terkadang KL itu merepotkan dan memalukan. Karena Hera dan Yeshi cukup memahami karakter Kalina, mereka percaya saja, bahwa Kalina tidak tahu siapa jati diri KL. Mungkin itu gerakan perseorangan. Mungkin juga pencetus KL sebenarnya salah satu dari guru. Mungkin juga KL itu Papa atau Mama Kalina yang ingin menyombongkan anaknya. Bisa jadi Kalina sendiri lah yang mendirikan KL. Yang jelas KL itu punya dana yang besar, sebab mereka sanggup menyewa marchingband paling terkenal di kabupaten untuk menyambut kemenangan Kalina setahun lalu. Saat wartawan sekolah mencoba mengorek keterangan dari anggota marching, mereka hanya mendapat info bahwa dana sebesar lima belas juta telah diterima pihak manajemen marching dari KL. Hingga berita ini diterbitkan, misteri mengenai KL belum terpecahkan.
*****

Implikasi keberadaan dua kelompok kuat di SMA Pancasila Sakti pun melahirkan kelompok baru. Mereka menamakan diri Tim Investigasi Penggemar Ekstra Kulikuler (TIPEK). Tujuan terbentuknya TIPEK adalah menyelidiki identitas anggota KL. Mereka selalu melaporkan perkembangan penyelidikan pada wartawan sekolah. Mereka berbeda dengan jurnalisme barbar yang menjual kehidupan pribadi orang tenar. Mereka menyelidiki karena mereka mencintai misteri. Bukan misteri mistis seperti yang beredar di televisi, namun misteri investigatif yang membutuhkan intuisi kuat dan otak cemerlang. Sejak terbentuk, TIPEK sudah mencurigai tujuh orang sebagai anggota KL. Sayangnya hipotesa mereka selalu terpatahkan dalam waktu satu minggu. Semua bukti yang mengarah pada tersangka mendadak sirna dan menyisakan tanda tanya besar sehingga membuat ketua Tim mengalami kebotakan dini.

Terkadang TIPEK mengusut tindak tanduk PFC. Beberapa kali TIPEk turut berperan dalam membongkar rencana PFC menjatuhkan Kalina. Malahan ketua Tim dicurigai sebagai anggota KL itu sendiri. Terjadi kekacauan di kalangan siswa SMA Pancasila Sakti. Majalah Dinding sekolah menjadi ajang unjuk rasa para anggota PFC terhadap kinerja TIPEK yang dianggap mengganggu hak personal dalam menyikapi dan mengapresiasikan rasa kagum pada idolanya. Sementara TIPEK berkoalisi dengan Majalah Sekolah melancarkan serangan balik mengenai sikap tidak etis anggoa PFC terhadap keberhasilan dan prestasi orang lain (Kalina maksudnya). Perang media terus terjadi selama dua bulan berturut- turut. Hingga pada akhirnya guru-guru menyadari penurunan nilai ulangan siswanya terjadi secara berjamaah pada semua mata pelajaran. Maka, mading sekolah dan majalah sekolah dibredel hingga pelaksanaan ujian tengah semester berakhir. Meski secara kasat mata perseteruan itu mereda, namun kegiatan saling serang terus terjadi secara bawah tanah dan kebotakan yang dialami ketua Tim TIPEK semakin parah. Kemudian dia mengambil resiko dan mengaku sebagai salah satu anggota KL. Hal ini dilakukan untuk meredam penggundulan kepalanya sendiri yang mengganas seperti kebakaran hutan –lebih tepatnya menuruti nasehat dokter untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya dari akar maslah itu sendiri.

Daripada kalimat-kalimat berat ini terus berlanjut dan cerbung ini mulai tercerabut dari kategori cerita remaja, maka KL mengirim pesan singkat dan e-mail pada seluruh siswa SMA Pancasila Sakti, “KL tidak punya anggota yang populasi rambutnya menurun mendekati kepunahan semacam ketua Tim TIPEK”.

Selesai.  (^o^)v


[Bersambung ya.....]

Kamis, 24 Januari 2013

Pandawa vs Kalina ep.5



Pagi hari itu, Kalina dipanggil kepala sekolah, terkait dengan pemilihan kandidat siswa teladan. Dia mendapat izin khusus meninggalkan pelajaran Matematika Bu Astuti, guru matematika paling mengerikan sekabupaten, yang cenderung enggan membiarkan siswanya melewatkan pelajaran. Ternyata pertemuan itu hanya berlangsung lima belas menit. Kalina diminta mempersiapkan karya tulis sebagai salah satu poin penilaian. Begitu penjelasan selesai, dia dipersilakan kembali ke kelas. Jika sedemikian singkat, kenapa tidak pas jam istirahat saja, pikir Kalina. Tapi tak mengapa. Dia tak ambil pusing.

Kelas Kalina ada di sudut paling tenang di sekolah, tepatnya sebelah selatan masjid sekolah. Pihak sekolah sengaja menempatkan kelas 12 di bagian paling tenang, mengingat besarnya beban belajar mereka. Sementara kelas sepuluh ada di dekat gerbang dan lapangan tengah, tempat paling bising. Kelas sebelas ada diantara keduanya. Kebetulan ruang Kepala Sekolah berada tak jauh dari lapangan tengah. Begitu keluar dari ruangan Kepala Sekolah, Kalina bisa melihat anak-anak kelas sebelas mengisi pelajaran olah raga dengan bertanding sepakbola.

Kalina tak mempedulikan kelas mana yang sedang bertanding itu. Dia tak menyadari bahwa salah satu dari siswa yang mengejar bola itu adalah Yudis. Bukan hanya Yudis, ada Raka juga. Meski Kalina tak sadar, namun Yudis sadar.

Yudis langsung menepi ketika tahu Kalina keluar dari kantor Kepala Sekolah. Dia berpura-pura menunggu Raka mengoper bola ke arahnya, padahal sengaja mencari jarak terpendek untuk melihat Kalina lebih dekat. Niatnya ingin menyapa, sekaligus terlihat keren dengan baju olah raga. Sayangnya Kalina cuek saja. Sedang asyik memperhatikan bagaiman Kalina berjalan menyusuri kelas demi kelas, mendadak Raka berteriak kepadanya.

“Bro!”

Yudis sempat mengalihkan pandangannya. Ada bola berkecepatan tinggi melayang ke arahnya. Rupanya ada yang sengaja mengoper ke arah Yudis, sebab dia satu-satunya pemain yang bebas dari penjagaan. Hanya sedetik, dan Yudis berhasil menghindari bola itu. Bola tersebut melesat dengan cepat dan membentur dinding kelas 10-F.

Sama dengan Yudis, Kalina pun langsung menoleh saat Raka berteriak. Belum sempat Kalina mengetahui apa yang terjadi, sebuah bola melesat dengan kecepatan tinggi. Kalina tak sempat mengelak. Dalam sepersekian detik, dia merasakan telinganya panas. Bola itu kemudian membentur dinding kelas 10-F yang ada di belakangnya, terpental, kemudian melesat kembali dan membentur pohon ketapang.

Yudis, yang berhasil mepertahankan keseimbangan saat menghindari bola tadi, merasa terguncang saat melihat Kalina hampir celaka gara-gara bola itu. Dia langsung berlari menghampiri Kalina yang tampak syok. Raka menyusulnya di belakang. Mereka langsung memastikan keadaan Kalina.

“ Kamu ga apa-apa?” tanya Yudis tegang. Dia melihat tangan kanan Kalina memegangi telinganya.

Raka langsung tanggap. Dia berusaha memeriksa telinga kanan Kalina. “ Kita harus ke UKS.”

“Tidak apa-apa, aku baik-baik saja,” kata Kalina gemetar. Yudis tahu, Kalina berusaha tegar, namun suaranya jelas-jelas menunjukkan dia tidak baik-baik saja.

“Kita harus ke UKS,” jawab Raka tegas. Raka menepuk bahu Yudis, berusaha menenangkan temannya. Dengan komunikasi mata, Yudis mengerti, bahwa prioritas mereka saat ini adalah memeriksa telinga Kalina dengan teliti.

“Kau bisa berjalan?” tanya Raka pada Kalina. Kalina mengangguk.

Kemudian mereka berdua menuntun Kalina ke UKS, dengan sedikit berlari.[bersambung...]

Rabu, 16 Januari 2013

Pandawa vs Kalina ep.4


Yudis masih tertegun semenit lamanya. Dia tersadar ketika ada seseorang menepuk bahunya. Seisi kantin ikut tertegun bersamanya. Bukan dengan alasan yang sama dengan Yudis, namun lebih pada mereka ketakutan terjadi sesuatu pada Yudis. Begitu Yudis tersadar, dia mendapati Kalina sudah tak ada di sana. Dia tak tahu kapan Kalina pergi. Menilik mie ayamnya belum habis, mungkin Kalina pergi dengan terburu-buru. Apa sebenarnya yang tadi terlintas di pikiran Yudis hingga dia seperti terhipnotis? Ah, Yudis pun tak tahu.

Yudis segera menghabiskan nasi gorengnya, membayarnya dengan buru-buru, lantas berusaha mencari Kalina. Siapa tahu Kalina belum jauh dari kantin. Namun upayanya sia-sia. Dia hanya mendapati histeria gadis-gadis yang sedang bertebaran di sepanjang halaman kelas.

Bahkan kali ini pun Yudis seperti disihir. Dia berusaha mencari Kalina. Pikirannya menuntut agar bisa segera melihat Kalina. Alhasil dia berjalan seperti orang kebingungan, mencari ke sana- ke mari tanpa hasil. Karena bel masuk sudah berbunyi, dia kahirnya menyerah dan kembali ke kelas dengan perasaan kecewa. Dia tak melihat Kalina lagi.

Yudis berjalan lunglai ketika masuk kelasnya. Kedatangannya disambut sahabat sekaligus teman sebangkunya.  

“Hey, Bro! Dari mana aja sih?” sapa Raka penuh dengan senyum gemilang yang sanggup meluluhkan hati anggota PMR sekabupaten.

Yudis hanya diam saja. Dia duduk di bangkunya, lantas mengehla nafas, panjang. Hatinya nyeri.

Menyadari ada yang aneh dengan sahabatnya, Raka meletakkan tangan kanannya di bahu Yudis. “Ada apa, Bro? Ada masalah?” tanya Raka pengertian.

Yudis hanya menggeleng. Kemudian dia tersenyum untuk menenangkan Raka. Namun hatinya masih nyeri karena tidak berhasil menemukan Kalina.
Dia menghelan nafas lagi, lalu bergumam,  “ Kayaknya, aku kena sihir.”

“Hee?! Sihir?!” Raka heran. Dia segera menempelkan telapak tangannya ke dahi Yudis. Gerakannya cukup cepat dan kuat hingga Yudis tersentak. “ Kamu ga demam kan, Bro?”

“ Aduh!" seru Yudis saat telapak tangan Raka meninggalkan rasa panas di dahinya, "Sakit, woi!” protes Yudis sembari menampik tangan Raka. Raka sempat tertegun karena mengira Yudis  tersinggung, namun ternyata tidak. Yudis lantas tersenyum dan mereka  tertawa bersama.

Guru Fisika sudah masuk kelas. Segera anak-anak 11-B duduk tenang di bangku masing-masing, mengeluarkan buku Fisika dari tas mereka, termasuk Yudis dan Raka. Mereka mengikuti pelajaran dengan tertib.

Diam-diam, hati Yudis masih menyimpan rasa nyeri di hatinya.
 ***

Yeshi pernah cerita alasan mengapa orang- orang takut padaku. Mereka terlalu kagum pada nilai-nilaiku yang sempurna. Bila orang melihat ada yang terlalu sempurna, rasa kagum yang awalnya muncul justru berubah menajadi kengerian. Orang mulai berfikir bahwa aku bukan manusia pada umumnya. Mereka takut untuk mengajakku bicara. Mereka merasa kurang pantas bicara dengan ku. Bahkan yang berani bertanya tentang PR hanya Yeshi dan Hera. Ketika aku bertanya pada mereka berdua, mengapa mereka tidak takut padaku, alasannya sederhana, terpaksa. Mereka terpaksa bertanya pada ku. Lebih menakutkan dihukum karena tidak mengerjakan PR fisika dan matematika daripada bertanya pada ku. Awalnya mereka juga takut, namun setelah tanggapan ku biasa saja, mereka mulai melihat ku sebagai orang biasa. Meski rasanya aku dimanfaatkan, namun aku tidak merasa dirugikan atas sikap Yeshi dan Hera.

Hera dan Yeshi pernah bertanya padaku, mengapa aku begitu serius. Aku juga tak tahu jawabannya. Seingatku, ayah dan ibuku selalu serius. Kami juga mengobrol kok, meski isi obrolan kami mungkin terlalu serius. Kami juga pernah main tebak-tebakan, mengenai nama ilmuan dunia dan apa penemuannya. Kami pun pernah main game bersama, game simulasi dagang atau game strategi perang. Sesekali kami piknik bersama, di museum atau pusat studi. Kami juga menonton film bersama, film fiksi ilmiah dan sejarah. Bahkan kami memiliki acara televisi favorit, Discovery Channel. Mana ku tahu kalau semua itu terlalu serius bagi orang lain [bersambung...]


Selasa, 15 Januari 2013

Pandawa vs Kalina ep.3

Si pemilik celana panjang yang menarik kursi lalu duduk di depan mejaku ini,
jika tidak salah namanya Yudis, anggota Pramuka yang terkenal hingga Jambore nasional. Dia menatapku balik, dengan tenang, tidak bersikap sok, maupun takut. Kemudian dia memulai percakapan.

“ Kok acarnya ga dimakan?”

Aku tak memperdulikannya dan kembali menyingkirkan acar- acar itu.

Yudis masih menunggu jawabanku. Dia memperhatikan potongan- potongan acar yang ku singkirkan dengan garpu. Aku dapat merasakan tatapan matanya. Rasanya seperti sedang dikuntit. Tapi biarlah, toh aku akan segera menyelesaikan makan ku lantas pergi.

” Kau selalu menyisakan acarmu, kan?” katanya setelah keheningan diantara kami berlangsung lama. Aku mulai merasa terganggu.

Ngomong-ngomong kenapa suasana kantin jadi hening?

“Kalau kau tak suka acarnya, boleh untuk ku ya?” katanya lagi. Makin ngelunjak.

Kali ini dia berhasil membuatku agak kesal. Aku mengabaikan acar dan mie ayam ku sebentar, menatapnya lurus- lurus. Biasanya tak tik ini berhasil. Tidak seperti orang lain yang langsung ciut begitu aku menggunakan jurus ini, dia berhasil bertahan dan tetap tenang. Tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun, ku raih botol saus di dekat mangkok mie ayam ku. Ku angkat botol saus itu, dan serempak terdengar suara nafas tertahan. Yudis memundurkan badannya sedikit, waspada.  Lima detik berlalu. Aku menuangkan saus dalam mie ayamku.

Lagi-lagi, serempak terdengar suara helaan nafas lega dari balik punggung anak itu. 

Sartono datang mengantarkan nasi goreng Yudis. Dengan gemetar dan buru-buru dia meletakkan piring nasi goreng itu, hingga sendok dan garpunya berjatuhan di meja. Sartono langsung lari meninggalkan kami. Dia  tak tahu apa yang terjadi. Namun dia jelas tahu satu hal, ini perang mental.

Aku mengabaikan kehadiaran Yudis. Toh aku datang ke sini untuk makan. Karena dia ingin duduk di depan ku, ya silakan saja. Sama-sama pengunjung kantin. Kami makan bersama, meski aku tak berkomentar sama sekali.

“Mas No selalu melarang siapapun duduk di sini,” katanya setelah menelan nasi goreng yang entah dikunyah atau langsung ditelan itu, ”aku bahkan meyuapnya dengan sebungkus rokok.” Dia berusaha terdengar santai saat bercerita. Dia mengaku, bahwa untuk mendapatkan ijin duduk di sini dia perlu waktu sebulan penuh membujuk Mas No –panggilannya untuk Sartono.

Alisku terangkat sebelah. Menurutku tingkah laku Sartono dan Yudis konyol. Aku tak pernah melarang siapa pun duduk di sini. Mereka sendiri yang meributkan hal-hal tidak perlu. Bahkan ada kasus suap hanya demi ’singgasana setan’?! Ini sudah keterlaluan.

Lalu keheningan terasa selama beberapa detik. Aku merasa benar-benar dipelototi. Dengan ajaib celotehan anak itu terhenti tanpa sebab. 
” Alis kirimu selalu terangkat setiap kali kau heran, ya?” katanya setengah berbisik.

Alisku memang terangkat sebelah, reaksi alamiah bila aku merasa heran. Pertanyaannya berhasil membuatku mengalihkan perhatian. Kuletakkan sendok dan garpu ku. Kembali, aku menatapnya lurus-lurus.

” Nah kan....,” matanya terbelalak jenaka, ” apa kataku. Kau mengangkat alis mu lagi.” Dia tersenyum seakan baru saja ngobrol dengan kawan akrabnya. Namun senyumnya tak bertahan lama. Dia tertegun menatap ku. Dia lupa bicara. Dia lupa berkedip. Dia lupa masih ada di kantin sekolah. Dia bahkan mungkin lupa kalau mulutnya sedikit menganga.

Dan kembali lagi, suasana kantin jadi hening. Ada apa dengan orang-orang ini?! Ini membuatku tidak nyaman. 
Alisku terangkat lagi sangking kesalnya. ku habiskan minumku dengan buru-buru, sambil melihat orang melongo tepat di hadapan ku.  Segera aku berdiri, meninggalkan dia di 'singgasana setan' sendirian.  Aku bertekat itulah terakhir kalinya Yudis bisa melihat alisku terangkat.[bersambung...].



Baca juga Pandawa vs Kalina ep. 1
Baca juga Pandawa vs Kalina ep.2
Baca Lanjutannya di Pandawa vs Kalina ep.4
Baca lanjutannya di Pandawa vs Kalina ep.5
Baca lanjutannya di Pandawa vs Kalina ep.6
Baca lanjutannya di Pandawa vs Kalina ep.7



Kamis, 10 Januari 2013

Pandawa vs Kalina ep.2


[Jam istirahat di kantin]
Jam istirahat kedua selalu dibuat tepat dengan jam makan siang, tentu saja. Ratusan perut lapar langsung menyerang kantin begitu bel berbunyi. Begitu pula Hera dan Yeshi. Mereka mengajak ku serta, mamun aku menolak. Kebetulan aku ingin menyelesaikan bab tiga novel Burung-Burung Manyar yang ku pinjam di perpustakaan. Lagipula kantin pasti penuh sesak pada jam segini.
Kira-kira lima belas menit kemudian aku bergegas ke kantin. Katin sudah cukup sepi. Separuh lebih pengunjungnya sudah selesai makan atau memilih membawa makanan ke kelas. Aku memesan mie ayam kemudian duduk di sudut kantin, di meja kecil yang hanya diberi satu kursi saja. Tempat ini tidak pernah dipakai anak lain, sejak aku kelas dua belas. Mereka menjulukinya ’singgasana setan’.
Dan setannya tentu saja, aku.

Meski merasa segala hal ini berlebihan, toh aku tidak bisa melakukan apa-apa. jadi aku diamkan saja bisik-bisik anak-anak yang masih tinggal di kantin tiap kali aku datang untuk makan. 
Yeshi pernah cerita alasan mengapa orang- orang takut padaku. Mereka terlalu kagum pada nilai-nilaiku yang sempurna. Bila orang melihat ada yang terlalu sempurna, rasa kagum yang awalnya muncul justru berubah menajadi kengerian. Orang mulai berfikir bahwa aku bukan manusia pada umumnya. Mereka enggan mengajakku bicara. Mereka Bahkan yang berani bertanya tentang PR hanya Yeshi dan Hera.
Ketika aku bertanya pada mereka berdua, mengapa mereka tidak takut padaku, alasannya sederhana, terpaksa. Mereka terpaksa bertanya pada ku. Lebih menakutkan dihukum karena tidak mengerjakan PR fisika dan matematika daripada bertanya pada ku. Meski rasanya aku dimanfaatkan, namun aku tidak merasa dirugikan atas sikap Yeshi dan Hera.
Belum lama ini aku mendengar sekelompok anak berbisik- bisik membicarakan ku, menyebar kabar sinting bahwa aku senang makan ati ampela mentah, mandi kembang setiap malam jum’at, dan suka melafalkan mantra kutukan. Aku tidak berniat menanggapi omongan mereka. Aku cukup menatap mereka lurus- lurus, maka acara bisik- bisik itu terhenti seketika. Mereka bubar dengan tergesa- gesa dan ketakutan. Aku tertawa dalam hati.
"Seseram itu kah diri ku?" batin ku sendiri.
Setelah menunggu sepuluh menit, mie ayam ku datang. Sartono, pelayang laki- laki satu- satunya di kantin itu, mengantarkan mie ayam pesananaku. Dengan gugup dia berkata, ”Silakan, Non,” lantas cepat-cepat kabur. Aku tak pernah sengaja menakut- nakuti Sartono. Anehnya dia ketakutan. Lebih aneh lagi dia selalu menjaga ’singgasana setan’ tetap kosong untukku. Walaupun kantin seramai apapun, dia melarang anak lain menempatinya. Orang aneh, pikirku. Namun lebih aneh lagi mereka patuh. 

Aku mendengus kesal menatap mie ayam ku diberi acar. Bu Tiah, pemilik sekaligus juru masak kantin sangat terobsesi pada acar mentimun, menurutku. Semua menu yang dijual selalu dilengkapi acar. Mie ayam, kwetiau, mie goreng, mie instan, nasi goreng, bahkan nasi telor, semua diberi acar. Dia sangat banga pada acar buatannya. Katanya yang paling segar dan enak sekampung. Terserah saja sih dia berpendapat begitu, tapi aku tidak suka acar. Lebih tidak suka lagi bila dipaksa untuk menyuikai acar. Bu Tiah memaksaku agar menyukai acarnya. Dia memberiku ekstra acar sebagai bujukan agar aku mau makan acar, meski dia tahu aku tak pernah memakannya.

Aku sibuk menyingkirkan acar dari mie ayamku saat ku rasakan ada yang meletakkan kursi di hadapanku lalu duduk. Hanya Hera atau Yeshi yang berani duduk makan bersamaku. Namu kali ini, yang duduk mengenakan celana panjang. Aku langsung mencari tahu siapa orang yang berani mendekati ’singgasana setan’ sekaligus setannya?

Kejutan. Salah satu dari Pandawa datang menghampiriku [bersambung....]



Baca juga Pandawa vs Kalina ep.1
Baca juga Pandawa vs Kalina ep.3

Baca lanjutannya di Pandawa vs Kalina ep.4
Baca lanjutannya di Pandawa vs Kalina ep.5
Baca lanjutannya di Pandawa vs Kalina ep.6
Baca lanjutannya di Pandawa vs Kalina ep.7

Bisnis dan liburan gratis. Penasaran? Klik di sini

Pandawa vs Kalina ep.1


Namaku Kalina. Kelas dua belas SMA Pancasila Sakti. Aku sedang membaca Advanced Calculus ketika terdengar suara histeris di depan pintu masuk perpustakaan. Ketenanganku terganggu. Rupanya ada lima anak laki- laki kelas sebelas datang. Mereka berprestasi dan bersahabat karib, sehingga mereka terkenal sebagai lima idola tampan SMA Pancasila Sakti. Ketenaran mereka terus berkembang sepanjang waktu. Terlebih sejak tahun ajaran baru. Anak- anak kelas sepuluh bertingkah histeris bila melihat mereka.  Aku menjuluki mereka Pandawa.

Kejadiannya satu tahun yang lalu. Pertama kalinya aku bertemu mereka, aku sedang membaca epos wayang Jawa di perpustakaan. Kisah tentang Pandawa, lima bersaudara anak Raja Pandu Dewanata. Kelima-limanya titisan dewa. Kelima- limanya kesatria. Aku sedang khusyuk mengikuti kisah Pandawa berburu di hutan Wanawasa, ketika tiba- tiba terdengar suara berisik di depan pintu perpustakaan. Perhatianku teralih. Ada lima anak kelas sepuluh masuk perpustakaan bersamaan. Entah mengapa, Pandawa dalam buku yang ku baca seakan-akan keluar begitu saja. Berdiri di pintu perpustakaan. Sejak saat itu, setiap aku berpapasan dengan mereka, aku selalu menyebutnya Pandawa.

Ku rasa aku tidak begitu suka pada Pandawa SMA Pancasila Sakti. Mereka tak lebih dari sekumpulan anak laki-laki yang kelebihan hormon bagiku. Setiap kali mereka hadir di perpustakaan, ketenangan perpustakaan terganggu. Bukan oleh suara berisik mereka, namun oleh suara berisik fans mereka. aku selalu membanting buku untuk membuat mereka diam. Aku heran, mereka seakan tidak tahu adab di perpustakaan, fans-fans mereka itu maksud ku. Apa mau dikata, gadis-gadis itu berisik karena Pandawa, maka aku pun dengan tidak adil merasa tidak suka pada Pandawa.


***

Saat jam istirahat, siswi-siswi kelas sepuluh berteriak-teriak histeris melihat Pandawa. Mereka berjalan berdesak- desakan di belakang langkah-langkah lebar kelima anak itu. Bertingkah seakan mereka artis yang hanya berkunjung sekali seumur hidup di sekolah. Bahkan ku dengar minggu lalu ada yang jatuh pingsan dalam kerumunan. Anak naas yang merasa beruntung itu segera dibawa ke UKS oleh Raka, ketua PMR sekolah. Sejak saat itu, terkadang ada yang sengaja pingsan –lebih tepatnya pura- pura pingsan –agar ditolong Raka. Aku tak begitu peduli apakah kali ini ada yang pura-pura pingsan lagi. Toh kelima anak itu sepertinya tidak keberatan menggotong-gotong gadis pingsan.
Aku kebetulan dari laboratorium Kimia, berjalan santai bersama Hera, teman sekelas ku. Tiap kali kebetulan bertemu rombongan mereka, hal itu membuat ku merasa kurang nyaman. Namun tidak bagi Hera, tentu saja.
”Duh... emang cakep banget ya....,” gumam Hera kagum. ” Dulu ibunya ngidam apa ya? Bisa cakep gitu?” Aku melirik teman sebangku ku itu, lalu mengikuti arah tatapannya, tampak jelas dia sedang mengagumi Pandawa. Hera merasa bahwa aku sedang meperhatikannya. Wajahnya memerah. Dia lantas meninju bahuku ringan. "Iiih......kamu ngapain siy liat-liat aku?" katanya agak merajuk.
"Liat jalan, Her...," jawab ku santai sembari mempercepat langkah agar tidak harus menembus kerumunan penggemar Pandawa. Hera tetap berusaha melihat sosok Raka hingga menghilang. Dia tertinggal jauh di belakang ku.
Hera anggota PMR. Ketika Raka bergabung sebagai anggota PMR pertama kalinya, Hera memandangi formulir pendaftaran Raka hingga berjam-jam. Sejak saat itu semangatnya sebagai anggota PMR semakin menjadi- jadi. Raka sangat cekatan, tampan, dan tidak sombong. Sejak saat itu lah, hampir sepanjang siang, Hera melaporkan segala hal yang dikerjakan Raka. Bercerita betapa cekatan dan hebatnya Raka menangani  orang sakit, dan bla bla bla. Aku memang mendengarkan Hera bercerita, namun aku tidak mengangapnya terlalu serius. Ah, remaja jatuh cinta kan hal biasa. Toh kata infortaimen, menyukai pria yang lebih muda sudah jadi tren saat ini. Ku anggap saja Hera seperti itu.
Hari-hari terus berlalu dan rasa tidak suka ku pada Pandawa masih bertahan pada level yang sama dengan setahun lalu. Mereka adalah sekelompok anak kelebihan hormon. [bersambung..]



Cerita Populer