Translate

Kamis, 24 Januari 2013

Pandawa vs Kalina ep.5



Pagi hari itu, Kalina dipanggil kepala sekolah, terkait dengan pemilihan kandidat siswa teladan. Dia mendapat izin khusus meninggalkan pelajaran Matematika Bu Astuti, guru matematika paling mengerikan sekabupaten, yang cenderung enggan membiarkan siswanya melewatkan pelajaran. Ternyata pertemuan itu hanya berlangsung lima belas menit. Kalina diminta mempersiapkan karya tulis sebagai salah satu poin penilaian. Begitu penjelasan selesai, dia dipersilakan kembali ke kelas. Jika sedemikian singkat, kenapa tidak pas jam istirahat saja, pikir Kalina. Tapi tak mengapa. Dia tak ambil pusing.

Kelas Kalina ada di sudut paling tenang di sekolah, tepatnya sebelah selatan masjid sekolah. Pihak sekolah sengaja menempatkan kelas 12 di bagian paling tenang, mengingat besarnya beban belajar mereka. Sementara kelas sepuluh ada di dekat gerbang dan lapangan tengah, tempat paling bising. Kelas sebelas ada diantara keduanya. Kebetulan ruang Kepala Sekolah berada tak jauh dari lapangan tengah. Begitu keluar dari ruangan Kepala Sekolah, Kalina bisa melihat anak-anak kelas sebelas mengisi pelajaran olah raga dengan bertanding sepakbola.

Kalina tak mempedulikan kelas mana yang sedang bertanding itu. Dia tak menyadari bahwa salah satu dari siswa yang mengejar bola itu adalah Yudis. Bukan hanya Yudis, ada Raka juga. Meski Kalina tak sadar, namun Yudis sadar.

Yudis langsung menepi ketika tahu Kalina keluar dari kantor Kepala Sekolah. Dia berpura-pura menunggu Raka mengoper bola ke arahnya, padahal sengaja mencari jarak terpendek untuk melihat Kalina lebih dekat. Niatnya ingin menyapa, sekaligus terlihat keren dengan baju olah raga. Sayangnya Kalina cuek saja. Sedang asyik memperhatikan bagaiman Kalina berjalan menyusuri kelas demi kelas, mendadak Raka berteriak kepadanya.

“Bro!”

Yudis sempat mengalihkan pandangannya. Ada bola berkecepatan tinggi melayang ke arahnya. Rupanya ada yang sengaja mengoper ke arah Yudis, sebab dia satu-satunya pemain yang bebas dari penjagaan. Hanya sedetik, dan Yudis berhasil menghindari bola itu. Bola tersebut melesat dengan cepat dan membentur dinding kelas 10-F.

Sama dengan Yudis, Kalina pun langsung menoleh saat Raka berteriak. Belum sempat Kalina mengetahui apa yang terjadi, sebuah bola melesat dengan kecepatan tinggi. Kalina tak sempat mengelak. Dalam sepersekian detik, dia merasakan telinganya panas. Bola itu kemudian membentur dinding kelas 10-F yang ada di belakangnya, terpental, kemudian melesat kembali dan membentur pohon ketapang.

Yudis, yang berhasil mepertahankan keseimbangan saat menghindari bola tadi, merasa terguncang saat melihat Kalina hampir celaka gara-gara bola itu. Dia langsung berlari menghampiri Kalina yang tampak syok. Raka menyusulnya di belakang. Mereka langsung memastikan keadaan Kalina.

“ Kamu ga apa-apa?” tanya Yudis tegang. Dia melihat tangan kanan Kalina memegangi telinganya.

Raka langsung tanggap. Dia berusaha memeriksa telinga kanan Kalina. “ Kita harus ke UKS.”

“Tidak apa-apa, aku baik-baik saja,” kata Kalina gemetar. Yudis tahu, Kalina berusaha tegar, namun suaranya jelas-jelas menunjukkan dia tidak baik-baik saja.

“Kita harus ke UKS,” jawab Raka tegas. Raka menepuk bahu Yudis, berusaha menenangkan temannya. Dengan komunikasi mata, Yudis mengerti, bahwa prioritas mereka saat ini adalah memeriksa telinga Kalina dengan teliti.

“Kau bisa berjalan?” tanya Raka pada Kalina. Kalina mengangguk.

Kemudian mereka berdua menuntun Kalina ke UKS, dengan sedikit berlari.[bersambung...]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerita Populer