Pagi hari itu, Kalina dipanggil kepala sekolah, terkait
dengan pemilihan kandidat siswa teladan. Dia mendapat izin khusus meninggalkan
pelajaran Matematika Bu Astuti, guru matematika paling mengerikan sekabupaten,
yang cenderung enggan membiarkan siswanya melewatkan pelajaran. Ternyata pertemuan
itu hanya berlangsung lima belas menit. Kalina diminta mempersiapkan karya
tulis sebagai salah satu poin penilaian. Begitu penjelasan selesai, dia
dipersilakan kembali ke kelas. Jika sedemikian singkat, kenapa tidak pas jam
istirahat saja, pikir Kalina. Tapi tak mengapa. Dia tak ambil pusing.
Kelas Kalina ada di sudut paling tenang di
sekolah, tepatnya sebelah selatan masjid sekolah. Pihak sekolah sengaja
menempatkan kelas 12 di bagian paling tenang, mengingat besarnya beban belajar
mereka. Sementara kelas sepuluh ada di dekat gerbang dan lapangan tengah,
tempat paling bising. Kelas sebelas ada diantara keduanya. Kebetulan ruang
Kepala Sekolah berada tak jauh dari lapangan tengah. Begitu keluar dari ruangan
Kepala Sekolah, Kalina bisa melihat anak-anak kelas sebelas mengisi pelajaran
olah raga dengan bertanding sepakbola.
Kalina tak mempedulikan kelas mana yang
sedang bertanding itu. Dia tak menyadari bahwa salah satu dari siswa yang
mengejar bola itu adalah Yudis. Bukan hanya Yudis, ada Raka juga. Meski Kalina
tak sadar, namun Yudis sadar.
Yudis langsung menepi ketika tahu Kalina
keluar dari kantor Kepala Sekolah. Dia berpura-pura menunggu Raka mengoper bola
ke arahnya, padahal sengaja mencari jarak terpendek untuk melihat Kalina lebih
dekat. Niatnya ingin menyapa, sekaligus terlihat keren dengan baju olah raga.
Sayangnya Kalina cuek saja. Sedang asyik memperhatikan bagaiman Kalina berjalan
menyusuri kelas demi kelas, mendadak Raka berteriak kepadanya.
“Bro!”
Yudis sempat mengalihkan pandangannya. Ada
bola berkecepatan tinggi melayang ke arahnya. Rupanya ada yang sengaja mengoper
ke arah Yudis, sebab dia satu-satunya pemain yang bebas dari penjagaan. Hanya
sedetik, dan Yudis berhasil menghindari bola itu. Bola tersebut melesat dengan
cepat dan membentur dinding kelas 10-F.
Sama dengan Yudis, Kalina pun langsung
menoleh saat Raka berteriak. Belum sempat Kalina mengetahui apa yang terjadi,
sebuah bola melesat dengan kecepatan tinggi. Kalina tak sempat mengelak. Dalam
sepersekian detik, dia merasakan telinganya panas. Bola itu kemudian membentur
dinding kelas 10-F yang ada di belakangnya, terpental, kemudian melesat kembali
dan membentur pohon ketapang.
Yudis, yang berhasil mepertahankan
keseimbangan saat menghindari bola tadi, merasa terguncang saat melihat Kalina
hampir celaka gara-gara bola itu. Dia langsung berlari menghampiri Kalina yang
tampak syok. Raka menyusulnya di belakang. Mereka langsung memastikan keadaan
Kalina.
“ Kamu ga apa-apa?” tanya Yudis tegang.
Dia melihat tangan kanan Kalina memegangi telinganya.
Raka langsung tanggap. Dia berusaha
memeriksa telinga kanan Kalina. “ Kita harus ke UKS.”
“Tidak apa-apa, aku baik-baik saja,” kata
Kalina gemetar. Yudis tahu, Kalina berusaha tegar, namun suaranya jelas-jelas
menunjukkan dia tidak baik-baik saja.
“Kita harus ke UKS,” jawab Raka tegas.
Raka menepuk bahu Yudis, berusaha menenangkan temannya. Dengan komunikasi mata,
Yudis mengerti, bahwa prioritas mereka saat ini adalah memeriksa telinga Kalina
dengan teliti.
“Kau bisa berjalan?” tanya Raka pada
Kalina. Kalina mengangguk.
Kemudian mereka berdua menuntun Kalina ke
UKS, dengan sedikit berlari.[bersambung...]


Tidak ada komentar:
Posting Komentar