Translate

Kamis, 10 Januari 2013

Pandawa vs Kalina ep.2


[Jam istirahat di kantin]
Jam istirahat kedua selalu dibuat tepat dengan jam makan siang, tentu saja. Ratusan perut lapar langsung menyerang kantin begitu bel berbunyi. Begitu pula Hera dan Yeshi. Mereka mengajak ku serta, mamun aku menolak. Kebetulan aku ingin menyelesaikan bab tiga novel Burung-Burung Manyar yang ku pinjam di perpustakaan. Lagipula kantin pasti penuh sesak pada jam segini.
Kira-kira lima belas menit kemudian aku bergegas ke kantin. Katin sudah cukup sepi. Separuh lebih pengunjungnya sudah selesai makan atau memilih membawa makanan ke kelas. Aku memesan mie ayam kemudian duduk di sudut kantin, di meja kecil yang hanya diberi satu kursi saja. Tempat ini tidak pernah dipakai anak lain, sejak aku kelas dua belas. Mereka menjulukinya ’singgasana setan’.
Dan setannya tentu saja, aku.

Meski merasa segala hal ini berlebihan, toh aku tidak bisa melakukan apa-apa. jadi aku diamkan saja bisik-bisik anak-anak yang masih tinggal di kantin tiap kali aku datang untuk makan. 
Yeshi pernah cerita alasan mengapa orang- orang takut padaku. Mereka terlalu kagum pada nilai-nilaiku yang sempurna. Bila orang melihat ada yang terlalu sempurna, rasa kagum yang awalnya muncul justru berubah menajadi kengerian. Orang mulai berfikir bahwa aku bukan manusia pada umumnya. Mereka enggan mengajakku bicara. Mereka Bahkan yang berani bertanya tentang PR hanya Yeshi dan Hera.
Ketika aku bertanya pada mereka berdua, mengapa mereka tidak takut padaku, alasannya sederhana, terpaksa. Mereka terpaksa bertanya pada ku. Lebih menakutkan dihukum karena tidak mengerjakan PR fisika dan matematika daripada bertanya pada ku. Meski rasanya aku dimanfaatkan, namun aku tidak merasa dirugikan atas sikap Yeshi dan Hera.
Belum lama ini aku mendengar sekelompok anak berbisik- bisik membicarakan ku, menyebar kabar sinting bahwa aku senang makan ati ampela mentah, mandi kembang setiap malam jum’at, dan suka melafalkan mantra kutukan. Aku tidak berniat menanggapi omongan mereka. Aku cukup menatap mereka lurus- lurus, maka acara bisik- bisik itu terhenti seketika. Mereka bubar dengan tergesa- gesa dan ketakutan. Aku tertawa dalam hati.
"Seseram itu kah diri ku?" batin ku sendiri.
Setelah menunggu sepuluh menit, mie ayam ku datang. Sartono, pelayang laki- laki satu- satunya di kantin itu, mengantarkan mie ayam pesananaku. Dengan gugup dia berkata, ”Silakan, Non,” lantas cepat-cepat kabur. Aku tak pernah sengaja menakut- nakuti Sartono. Anehnya dia ketakutan. Lebih aneh lagi dia selalu menjaga ’singgasana setan’ tetap kosong untukku. Walaupun kantin seramai apapun, dia melarang anak lain menempatinya. Orang aneh, pikirku. Namun lebih aneh lagi mereka patuh. 

Aku mendengus kesal menatap mie ayam ku diberi acar. Bu Tiah, pemilik sekaligus juru masak kantin sangat terobsesi pada acar mentimun, menurutku. Semua menu yang dijual selalu dilengkapi acar. Mie ayam, kwetiau, mie goreng, mie instan, nasi goreng, bahkan nasi telor, semua diberi acar. Dia sangat banga pada acar buatannya. Katanya yang paling segar dan enak sekampung. Terserah saja sih dia berpendapat begitu, tapi aku tidak suka acar. Lebih tidak suka lagi bila dipaksa untuk menyuikai acar. Bu Tiah memaksaku agar menyukai acarnya. Dia memberiku ekstra acar sebagai bujukan agar aku mau makan acar, meski dia tahu aku tak pernah memakannya.

Aku sibuk menyingkirkan acar dari mie ayamku saat ku rasakan ada yang meletakkan kursi di hadapanku lalu duduk. Hanya Hera atau Yeshi yang berani duduk makan bersamaku. Namu kali ini, yang duduk mengenakan celana panjang. Aku langsung mencari tahu siapa orang yang berani mendekati ’singgasana setan’ sekaligus setannya?

Kejutan. Salah satu dari Pandawa datang menghampiriku [bersambung....]



Baca juga Pandawa vs Kalina ep.1
Baca juga Pandawa vs Kalina ep.3

Baca lanjutannya di Pandawa vs Kalina ep.4
Baca lanjutannya di Pandawa vs Kalina ep.5
Baca lanjutannya di Pandawa vs Kalina ep.6
Baca lanjutannya di Pandawa vs Kalina ep.7

Bisnis dan liburan gratis. Penasaran? Klik di sini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerita Populer