Yudis masih tertegun semenit lamanya. Dia
tersadar ketika ada seseorang menepuk bahunya. Seisi kantin ikut tertegun
bersamanya. Bukan dengan alasan yang sama dengan Yudis, namun lebih pada mereka
ketakutan terjadi sesuatu pada Yudis. Begitu Yudis tersadar, dia mendapati
Kalina sudah tak ada di sana. Dia tak tahu kapan Kalina pergi. Menilik mie
ayamnya belum habis, mungkin Kalina pergi dengan terburu-buru. Apa sebenarnya
yang tadi terlintas di pikiran Yudis hingga dia seperti terhipnotis? Ah, Yudis
pun tak tahu.
Yudis segera menghabiskan nasi gorengnya,
membayarnya dengan buru-buru, lantas berusaha mencari Kalina. Siapa tahu Kalina
belum jauh dari kantin. Namun upayanya sia-sia. Dia hanya mendapati histeria
gadis-gadis yang sedang bertebaran di sepanjang halaman kelas.
Bahkan kali ini pun Yudis seperti disihir.
Dia berusaha mencari Kalina. Pikirannya menuntut agar bisa segera melihat
Kalina. Alhasil dia berjalan seperti orang kebingungan, mencari ke sana- ke
mari tanpa hasil. Karena bel masuk sudah berbunyi, dia kahirnya menyerah dan
kembali ke kelas dengan perasaan kecewa. Dia tak melihat Kalina lagi.
Yudis berjalan lunglai ketika masuk kelasnya. Kedatangannya disambut sahabat sekaligus teman sebangkunya.
Yudis berjalan lunglai ketika masuk kelasnya. Kedatangannya disambut sahabat sekaligus teman sebangkunya.
“Hey, Bro! Dari mana aja sih?” sapa Raka
penuh dengan senyum gemilang yang sanggup meluluhkan hati anggota PMR
sekabupaten.
Yudis hanya diam saja. Dia duduk di bangkunya,
lantas mengehla nafas, panjang. Hatinya nyeri.
Menyadari ada yang aneh dengan sahabatnya,
Raka meletakkan tangan kanannya di bahu Yudis. “Ada apa, Bro? Ada masalah?” tanya Raka pengertian.
Yudis hanya menggeleng. Kemudian dia tersenyum untuk
menenangkan Raka. Namun hatinya masih nyeri karena tidak berhasil menemukan
Kalina.
Dia menghelan nafas lagi, lalu bergumam, “ Kayaknya, aku kena sihir.”
Dia menghelan nafas lagi, lalu bergumam, “ Kayaknya, aku kena sihir.”
“Hee?! Sihir?!” Raka heran. Dia segera menempelkan
telapak tangannya ke dahi Yudis. Gerakannya cukup cepat dan kuat hingga Yudis
tersentak. “ Kamu ga demam kan, Bro?”
“ Aduh!" seru Yudis saat telapak tangan Raka meninggalkan rasa panas di dahinya, "Sakit, woi!” protes Yudis sembari
menampik tangan Raka. Raka sempat tertegun karena mengira Yudis tersinggung, namun ternyata tidak. Yudis lantas tersenyum dan mereka tertawa bersama.
Guru Fisika sudah masuk kelas. Segera
anak-anak 11-B duduk tenang di bangku masing-masing, mengeluarkan buku Fisika
dari tas mereka, termasuk Yudis dan Raka. Mereka mengikuti pelajaran dengan tertib.
Diam-diam, hati Yudis masih menyimpan rasa
nyeri di hatinya.
Yeshi pernah cerita alasan mengapa orang- orang takut padaku. Mereka
terlalu kagum pada nilai-nilaiku yang sempurna. Bila orang melihat ada yang
terlalu sempurna, rasa kagum yang awalnya muncul justru berubah menajadi
kengerian. Orang mulai berfikir bahwa aku bukan manusia pada umumnya. Mereka
takut untuk mengajakku bicara. Mereka merasa kurang pantas bicara dengan ku.
Bahkan yang berani bertanya tentang PR hanya Yeshi dan Hera. Ketika aku
bertanya pada mereka berdua, mengapa mereka tidak takut padaku, alasannya
sederhana, terpaksa. Mereka terpaksa bertanya pada ku. Lebih menakutkan dihukum
karena tidak mengerjakan PR fisika dan matematika daripada bertanya pada ku. Awalnya
mereka juga takut, namun setelah tanggapan ku biasa saja, mereka mulai melihat
ku sebagai orang biasa. Meski
rasanya aku dimanfaatkan, namun aku tidak merasa dirugikan atas sikap Yeshi dan
Hera.
Hera dan Yeshi pernah bertanya padaku, mengapa aku begitu serius. Aku juga
tak tahu jawabannya. Seingatku, ayah dan ibuku selalu serius. Kami juga
mengobrol kok, meski isi obrolan kami mungkin terlalu serius. Kami juga pernah
main tebak-tebakan, mengenai nama ilmuan dunia dan apa penemuannya. Kami pun
pernah main game bersama, game simulasi dagang atau game strategi perang.
Sesekali kami piknik bersama, di museum atau pusat studi. Kami juga menonton
film bersama, film fiksi ilmiah dan sejarah. Bahkan kami memiliki acara
televisi favorit, Discovery Channel. Mana ku tahu kalau semua itu terlalu serius bagi orang lain [bersambung...]
Baca juga Pandawa vs Kalina ep.1
Baca juga Pandawa vs Kalina ep.2
Baca juga Pandawa vs Kalina ep.3
Baca lanjutannya di Pandawa vs Kalina ep.5
Baca lanjutannya di Pandawa vs Kalina ep.6
Baca lanjutannya di Pandawa vs Kalina ep.7


Tidak ada komentar:
Posting Komentar