Translate

Rabu, 16 Januari 2013

Pandawa vs Kalina ep.4


Yudis masih tertegun semenit lamanya. Dia tersadar ketika ada seseorang menepuk bahunya. Seisi kantin ikut tertegun bersamanya. Bukan dengan alasan yang sama dengan Yudis, namun lebih pada mereka ketakutan terjadi sesuatu pada Yudis. Begitu Yudis tersadar, dia mendapati Kalina sudah tak ada di sana. Dia tak tahu kapan Kalina pergi. Menilik mie ayamnya belum habis, mungkin Kalina pergi dengan terburu-buru. Apa sebenarnya yang tadi terlintas di pikiran Yudis hingga dia seperti terhipnotis? Ah, Yudis pun tak tahu.

Yudis segera menghabiskan nasi gorengnya, membayarnya dengan buru-buru, lantas berusaha mencari Kalina. Siapa tahu Kalina belum jauh dari kantin. Namun upayanya sia-sia. Dia hanya mendapati histeria gadis-gadis yang sedang bertebaran di sepanjang halaman kelas.

Bahkan kali ini pun Yudis seperti disihir. Dia berusaha mencari Kalina. Pikirannya menuntut agar bisa segera melihat Kalina. Alhasil dia berjalan seperti orang kebingungan, mencari ke sana- ke mari tanpa hasil. Karena bel masuk sudah berbunyi, dia kahirnya menyerah dan kembali ke kelas dengan perasaan kecewa. Dia tak melihat Kalina lagi.

Yudis berjalan lunglai ketika masuk kelasnya. Kedatangannya disambut sahabat sekaligus teman sebangkunya.  

“Hey, Bro! Dari mana aja sih?” sapa Raka penuh dengan senyum gemilang yang sanggup meluluhkan hati anggota PMR sekabupaten.

Yudis hanya diam saja. Dia duduk di bangkunya, lantas mengehla nafas, panjang. Hatinya nyeri.

Menyadari ada yang aneh dengan sahabatnya, Raka meletakkan tangan kanannya di bahu Yudis. “Ada apa, Bro? Ada masalah?” tanya Raka pengertian.

Yudis hanya menggeleng. Kemudian dia tersenyum untuk menenangkan Raka. Namun hatinya masih nyeri karena tidak berhasil menemukan Kalina.
Dia menghelan nafas lagi, lalu bergumam,  “ Kayaknya, aku kena sihir.”

“Hee?! Sihir?!” Raka heran. Dia segera menempelkan telapak tangannya ke dahi Yudis. Gerakannya cukup cepat dan kuat hingga Yudis tersentak. “ Kamu ga demam kan, Bro?”

“ Aduh!" seru Yudis saat telapak tangan Raka meninggalkan rasa panas di dahinya, "Sakit, woi!” protes Yudis sembari menampik tangan Raka. Raka sempat tertegun karena mengira Yudis  tersinggung, namun ternyata tidak. Yudis lantas tersenyum dan mereka  tertawa bersama.

Guru Fisika sudah masuk kelas. Segera anak-anak 11-B duduk tenang di bangku masing-masing, mengeluarkan buku Fisika dari tas mereka, termasuk Yudis dan Raka. Mereka mengikuti pelajaran dengan tertib.

Diam-diam, hati Yudis masih menyimpan rasa nyeri di hatinya.
 ***

Yeshi pernah cerita alasan mengapa orang- orang takut padaku. Mereka terlalu kagum pada nilai-nilaiku yang sempurna. Bila orang melihat ada yang terlalu sempurna, rasa kagum yang awalnya muncul justru berubah menajadi kengerian. Orang mulai berfikir bahwa aku bukan manusia pada umumnya. Mereka takut untuk mengajakku bicara. Mereka merasa kurang pantas bicara dengan ku. Bahkan yang berani bertanya tentang PR hanya Yeshi dan Hera. Ketika aku bertanya pada mereka berdua, mengapa mereka tidak takut padaku, alasannya sederhana, terpaksa. Mereka terpaksa bertanya pada ku. Lebih menakutkan dihukum karena tidak mengerjakan PR fisika dan matematika daripada bertanya pada ku. Awalnya mereka juga takut, namun setelah tanggapan ku biasa saja, mereka mulai melihat ku sebagai orang biasa. Meski rasanya aku dimanfaatkan, namun aku tidak merasa dirugikan atas sikap Yeshi dan Hera.

Hera dan Yeshi pernah bertanya padaku, mengapa aku begitu serius. Aku juga tak tahu jawabannya. Seingatku, ayah dan ibuku selalu serius. Kami juga mengobrol kok, meski isi obrolan kami mungkin terlalu serius. Kami juga pernah main tebak-tebakan, mengenai nama ilmuan dunia dan apa penemuannya. Kami pun pernah main game bersama, game simulasi dagang atau game strategi perang. Sesekali kami piknik bersama, di museum atau pusat studi. Kami juga menonton film bersama, film fiksi ilmiah dan sejarah. Bahkan kami memiliki acara televisi favorit, Discovery Channel. Mana ku tahu kalau semua itu terlalu serius bagi orang lain [bersambung...]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerita Populer