Si pemilik celana panjang yang menarik kursi lalu duduk di depan mejaku ini,
Baca juga Pandawa vs Kalina ep. 1
Baca juga Pandawa vs Kalina ep.2
Baca Lanjutannya di Pandawa vs Kalina ep.4
Baca lanjutannya di Pandawa vs Kalina ep.5
Baca lanjutannya di Pandawa vs Kalina ep.6
Baca lanjutannya di Pandawa vs Kalina ep.7
jika tidak salah namanya Yudis, anggota Pramuka yang terkenal hingga
Jambore nasional. Dia menatapku balik, dengan tenang, tidak bersikap sok,
maupun takut. Kemudian dia memulai percakapan.
“ Kok acarnya ga
dimakan?”
Aku tak memperdulikannya dan kembali menyingkirkan acar- acar itu.
Yudis masih menunggu jawabanku. Dia memperhatikan potongan- potongan acar
yang ku singkirkan dengan garpu. Aku dapat merasakan tatapan matanya.
Rasanya seperti sedang dikuntit. Tapi biarlah, toh aku akan segera menyelesaikan makan ku lantas pergi.
” Kau selalu menyisakan acarmu, kan?” katanya setelah keheningan
diantara kami berlangsung lama. Aku mulai merasa terganggu.
Ngomong-ngomong kenapa suasana kantin jadi
hening?
“Kalau kau tak suka acarnya, boleh untuk
ku ya?” katanya lagi. Makin ngelunjak.
Kali ini dia berhasil membuatku agak kesal. Aku mengabaikan acar dan mie ayam ku sebentar,
menatapnya lurus- lurus. Biasanya tak tik ini berhasil. Tidak seperti orang lain yang langsung ciut begitu aku
menggunakan jurus ini, dia berhasil bertahan dan tetap tenang. Tanpa
mengalihkan pandangan sedikitpun, ku raih botol saus di dekat mangkok mie ayam
ku. Ku angkat botol saus itu, dan serempak terdengar suara nafas tertahan.
Yudis memundurkan badannya sedikit, waspada.
Lima detik berlalu. Aku menuangkan saus dalam mie ayamku.
Lagi-lagi, serempak terdengar suara helaan
nafas lega dari balik punggung anak itu.
Sartono datang mengantarkan nasi goreng Yudis. Dengan gemetar
dan buru-buru dia meletakkan piring nasi goreng itu, hingga sendok dan garpunya
berjatuhan di meja. Sartono langsung lari meninggalkan kami. Dia tak tahu apa yang terjadi. Namun dia jelas
tahu satu hal, ini perang mental.
Aku mengabaikan kehadiaran Yudis. Toh aku
datang ke sini untuk makan. Karena dia ingin duduk di depan ku, ya silakan
saja. Sama-sama pengunjung kantin. Kami
makan bersama, meski aku tak berkomentar sama sekali.
“Mas No selalu melarang siapapun duduk di sini,” katanya setelah menelan nasi goreng yang entah dikunyah atau langsung ditelan itu, ”aku bahkan
meyuapnya dengan sebungkus rokok.” Dia berusaha terdengar santai saat bercerita. Dia
mengaku, bahwa untuk mendapatkan ijin duduk di sini dia perlu waktu sebulan
penuh membujuk Mas No –panggilannya untuk Sartono.
Alisku terangkat sebelah. Menurutku tingkah laku Sartono dan Yudis konyol.
Aku tak pernah melarang siapa pun duduk di sini. Mereka sendiri yang meributkan
hal-hal tidak perlu. Bahkan ada kasus suap hanya demi ’singgasana setan’?!
Ini sudah keterlaluan.
Lalu keheningan terasa selama beberapa detik. Aku merasa benar-benar dipelototi. Dengan ajaib celotehan anak itu terhenti tanpa sebab.
” Alis kirimu selalu terangkat setiap kali kau heran, ya?” katanya setengah berbisik.
” Alis kirimu selalu terangkat setiap kali kau heran, ya?” katanya setengah berbisik.
Alisku memang terangkat
sebelah, reaksi alamiah bila aku merasa heran. Pertanyaannya berhasil
membuatku mengalihkan perhatian. Kuletakkan sendok dan garpu ku. Kembali, aku menatapnya lurus-lurus.
” Nah kan....,” matanya terbelalak jenaka, ” apa kataku. Kau
mengangkat alis mu lagi.” Dia
tersenyum seakan baru saja ngobrol dengan kawan akrabnya. Namun senyumnya tak
bertahan lama. Dia tertegun menatap ku. Dia lupa bicara. Dia lupa berkedip. Dia
lupa masih ada di kantin sekolah. Dia bahkan mungkin lupa kalau mulutnya sedikit menganga.
Dan kembali lagi, suasana kantin jadi
hening. Ada apa dengan orang-orang ini?! Ini membuatku tidak nyaman.
Alisku terangkat lagi sangking kesalnya. ku habiskan minumku dengan buru-buru, sambil melihat orang melongo tepat di hadapan ku. Segera aku berdiri, meninggalkan dia di 'singgasana setan' sendirian. Aku bertekat itulah terakhir kalinya Yudis bisa melihat alisku terangkat.[bersambung...].
Baca juga Pandawa vs Kalina ep. 1
Baca juga Pandawa vs Kalina ep.2
Baca Lanjutannya di Pandawa vs Kalina ep.4
Baca lanjutannya di Pandawa vs Kalina ep.5
Baca lanjutannya di Pandawa vs Kalina ep.6
Baca lanjutannya di Pandawa vs Kalina ep.7


Tidak ada komentar:
Posting Komentar