Namaku Kalina. Kelas dua belas SMA Pancasila Sakti. Aku
sedang membaca Advanced Calculus ketika terdengar suara histeris
di depan pintu masuk perpustakaan. Ketenanganku terganggu. Rupanya ada lima anak laki-
laki kelas sebelas datang. Mereka berprestasi dan bersahabat karib, sehingga mereka terkenal
sebagai lima idola tampan SMA Pancasila Sakti. Ketenaran mereka terus
berkembang sepanjang waktu. Terlebih sejak tahun ajaran baru. Anak- anak kelas
sepuluh bertingkah histeris bila melihat mereka. Aku menjuluki mereka Pandawa.
Kejadiannya satu tahun yang
lalu. Pertama kalinya aku bertemu mereka, aku sedang membaca epos wayang Jawa di perpustakaan. Kisah tentang Pandawa, lima
bersaudara anak Raja Pandu Dewanata. Kelima-limanya titisan dewa. Kelima-
limanya kesatria. Aku sedang khusyuk mengikuti kisah Pandawa berburu di hutan
Wanawasa, ketika tiba- tiba terdengar suara berisik di depan pintu
perpustakaan. Perhatianku teralih. Ada
lima anak kelas
sepuluh masuk perpustakaan bersamaan. Entah mengapa, Pandawa dalam buku yang ku
baca seakan-akan keluar begitu saja. Berdiri di pintu perpustakaan. Sejak saat itu, setiap aku berpapasan dengan mereka, aku selalu menyebutnya Pandawa.
Ku rasa aku tidak begitu suka pada Pandawa SMA Pancasila Sakti. Mereka
tak lebih dari sekumpulan anak laki-laki yang kelebihan hormon bagiku. Setiap
kali mereka hadir di perpustakaan, ketenangan perpustakaan terganggu. Bukan oleh suara berisik mereka, namun oleh suara berisik fans mereka. aku selalu membanting buku untuk membuat
mereka diam. Aku heran, mereka seakan tidak tahu adab di perpustakaan, fans-fans mereka itu maksud ku. Apa mau dikata, gadis-gadis itu berisik karena Pandawa, maka aku pun dengan tidak adil merasa tidak suka pada Pandawa.
Saat jam istirahat, siswi-siswi kelas sepuluh berteriak-teriak histeris melihat Pandawa. Mereka berjalan berdesak- desakan di belakang langkah-langkah lebar kelima anak itu. Bertingkah seakan mereka artis yang hanya berkunjung sekali seumur hidup di sekolah. Bahkan ku dengar minggu lalu ada yang jatuh pingsan dalam kerumunan. Anak naas yang merasa beruntung itu segera dibawa ke UKS oleh Raka, ketua PMR sekolah. Sejak saat itu, terkadang ada yang sengaja pingsan –lebih tepatnya pura- pura pingsan –agar ditolong Raka. Aku tak begitu peduli apakah kali ini ada yang pura-pura pingsan lagi. Toh kelima anak itu sepertinya tidak keberatan menggotong-gotong gadis pingsan.
Aku kebetulan dari laboratorium Kimia, berjalan santai bersama Hera, teman sekelas ku. Tiap kali kebetulan bertemu rombongan mereka, hal itu membuat ku merasa kurang nyaman. Namun tidak bagi Hera, tentu saja.
”Duh... emang cakep banget ya....,” gumam Hera kagum. ” Dulu ibunya ngidam apa ya? Bisa cakep gitu?” Aku melirik teman sebangku ku itu, lalu mengikuti arah tatapannya, tampak jelas dia sedang mengagumi Pandawa. Hera merasa bahwa aku sedang meperhatikannya. Wajahnya memerah. Dia lantas meninju bahuku ringan. "Iiih......kamu ngapain siy liat-liat aku?" katanya agak merajuk.
"Liat jalan, Her...," jawab ku santai sembari mempercepat langkah agar tidak harus menembus kerumunan penggemar Pandawa. Hera tetap berusaha melihat sosok Raka hingga menghilang. Dia tertinggal jauh di belakang ku.
Hera anggota PMR. Ketika Raka bergabung sebagai anggota PMR pertama kalinya, Hera memandangi formulir pendaftaran Raka hingga berjam-jam. Sejak saat itu semangatnya sebagai anggota PMR semakin menjadi- jadi. Raka sangat cekatan, tampan, dan tidak sombong. Sejak saat itu lah, hampir sepanjang siang, Hera melaporkan segala hal yang dikerjakan Raka. Bercerita betapa cekatan dan hebatnya Raka menangani orang sakit, dan bla bla bla. Aku memang mendengarkan Hera bercerita, namun aku tidak mengangapnya terlalu serius. Ah, remaja jatuh cinta kan hal biasa. Toh kata infortaimen, menyukai pria yang lebih muda sudah jadi tren saat ini. Ku anggap saja Hera seperti itu.
Hari-hari terus berlalu dan rasa tidak suka ku pada Pandawa masih bertahan pada level yang sama dengan setahun lalu. Mereka adalah sekelompok anak kelebihan hormon. [bersambung..]
***
Aku kebetulan dari laboratorium Kimia, berjalan santai bersama Hera, teman sekelas ku. Tiap kali kebetulan bertemu rombongan mereka, hal itu membuat ku merasa kurang nyaman. Namun tidak bagi Hera, tentu saja.
”Duh... emang cakep banget ya....,” gumam Hera kagum. ” Dulu ibunya ngidam apa ya? Bisa cakep gitu?” Aku melirik teman sebangku ku itu, lalu mengikuti arah tatapannya, tampak jelas dia sedang mengagumi Pandawa. Hera merasa bahwa aku sedang meperhatikannya. Wajahnya memerah. Dia lantas meninju bahuku ringan. "Iiih......kamu ngapain siy liat-liat aku?" katanya agak merajuk.
"Liat jalan, Her...," jawab ku santai sembari mempercepat langkah agar tidak harus menembus kerumunan penggemar Pandawa. Hera tetap berusaha melihat sosok Raka hingga menghilang. Dia tertinggal jauh di belakang ku.
Hera anggota PMR. Ketika Raka bergabung sebagai anggota PMR pertama kalinya, Hera memandangi formulir pendaftaran Raka hingga berjam-jam. Sejak saat itu semangatnya sebagai anggota PMR semakin menjadi- jadi. Raka sangat cekatan, tampan, dan tidak sombong. Sejak saat itu lah, hampir sepanjang siang, Hera melaporkan segala hal yang dikerjakan Raka. Bercerita betapa cekatan dan hebatnya Raka menangani orang sakit, dan bla bla bla. Aku memang mendengarkan Hera bercerita, namun aku tidak mengangapnya terlalu serius. Ah, remaja jatuh cinta kan hal biasa. Toh kata infortaimen, menyukai pria yang lebih muda sudah jadi tren saat ini. Ku anggap saja Hera seperti itu.
Hari-hari terus berlalu dan rasa tidak suka ku pada Pandawa masih bertahan pada level yang sama dengan setahun lalu. Mereka adalah sekelompok anak kelebihan hormon. [bersambung..]
Baca juga Pandawa vs Kalina ep.2
Baca lanjutannya Pandawa vs Kalina ep.3
Baca lanjutannya Pandawa vs Kalina ep.4
Baca lanjutannya Pandawa vs Kalina ep.5
Baca lnajutannya Pandawa vs Kalina ep.6
Baca lanjutan Pandawa vs Kalina ep.7
Tidak ada komentar:
Posting Komentar