Translate

Kamis, 10 Januari 2013

Dinamika Kompos


Berhari- hari yang berlalu, tak jauh dari kehidupan yang dapat kalian bayangkan, dikisahkan diantara tumpukan sampah dan seresah muncul materi- materi yang dapat membantu perkembangan kehidupan baru. Materi itu disebut kompos. 
Kalian tak perlu menggaruk- garuk kepala, karena ekspresi kebingungan bukan hanya menggaruk kepala. Cukup lanjutkan membaca saja. Apabila kalian menghentikannya, maka kalian akan terjebak dalam kebingungan yang absurd hanya gara- gara kompos. Percayalah, ketika kalian menemukan seonggok kompos pun, kalian tetap tidak akan mengerti.
Lesty menatap gundukan kompos, hal yang sama yang akan kalian lakukan bila berhenti membaca, memikirkan banyak hal mengenai kompos. Namun kompos tetaplah kompos. Bukan penyelesaian yang ia temukan. Cacing yang menggeliat- geliatlah yang ia temukan. Masih menatap gundukan kompos dengan takjub, entah oleh geliat cacingnya atau oleh warna hitam komposnya, Lesty menghela nafas panjang.
BLETAK!!! AAAAAAAA!!! BRUGH!!!
“ Lesty!!” seru beberapa orang bersamaan dengan nada khawatir campur kaget.
Segera sejumlah orang berbondong- bondong berlari mencari Lesty. Berharap tidak menemukan anak itu tergeletak tak berdaya gara- gara suara  mengejutkan tadi.
Lesty, (apakah benar dia tergeletak?) tertegun menatap kompos. Tidak menyadari suara langkah- langkah kaki mendekat. Sekali lagi dia menghela nafas panjang.
Serombongan orang yang berlari terburu- buru itu mendadak mengerem secara otomatis, sebelum menubruk Lesty yang berdiri mematung bertumpukan sekop. Mereka lega bercampur heran. Heran berubah menjadi penasaran. Apa gerangan suara tadi? Dan mengapa Lesty termenung di dekat gundukan kompos? Beberapa menahan nafas, takut suara nafasnya mengusik ketenangan di sekitar gundukan kompos itu. Beberapa lagi menatap tak berkedip, cemas, jangan- jangan dalam satu kedipan mata Lesty lantas tergeletak di hadapan mereka. Namun itu semua kekhawatiran yang berlebihan. Sungguh.
Akhirnya salah satu dari  mereka memberanikan diri menyapa Lesty. Dengan hati- hati ia mendekati Lesty. Selangkah demi selangkah yang terasa amat panjang, akhirnya dia berdiri sejajar dengan Lesty. Matanya bergantian memandang Lesty, gundukan kompos, Lesty, gundukan kompos, Lesty lagi, gundukan kompos lagi, dan pada akhirnya matanya terpaku pada gundukan kompos.
Dengan suara dibuat- buat lembut, dia bertanya, “ Lesty, ada apa?”
Sekali lagi Lesty menghela nafas panjang.
Orang- orang dibelakang Lesty mencondongkan kepalanya, berharap telinganya cukup dekat untuk menangkap ucapan Lesty yang paling lirih sekalipun.
Sekali lagi Lesty menghela nafas panjang.
“ Lesty?” tanya perwakilan kelompok penuh nada kekhawatiran.
Dengan lambat, Lesty menggerakkan kepalanya, menatap temannya yang berdiri di sebelahnya. Melihat raut kekhawatiran dari wajah temannya. Namun kekhawatiran itu tak sebanding dengan perasaan Lesty. Perasaan Lesty lebih mendalam daripada sekedar kekhawatiran.
Sekali lagi Lesty menghela nafas panjang.
“ Lesty?” sekali lagi orang itu bertanya.
“ Kompos itu,” kata Lesty membuka penjelasannya. Temannya mengangguk penuh pengertian sambil menatap wajah Lesty. “ Kompos itu.....Gunawan nungsep di kompos itu.”
“HEEEEEEEE?!!!!!!” teriak yang lain bersamaan.

EPILOG : Akhirnya mereka menolong Gunawan keluar dari gundukan kompos itu. Dia melesak cukup dalam. Wajahnya penuh kompos hitam, bahkan beberapa cacing berhasil menyelinap di balik bajunya. Gunawan sedang mencoba memanen buah nangka di halaman belakang itu. Sayangnya dia diserang semut merah. Ketika dia berjuang menghalau semut- semut itu, gerakannya tidak dapat diprediksi. Kakinya menendang tangga tanpa sengaja. Kemudia Gunawan terpeleset. Dia berteriak saat menyadari tubuhnya tertarik gravitasi bumi. Lalu pingsan. Dengan mulus, tubuh Gunawan jatuh tepat di tengah tumpukan kompos yang hendak dibalik- balik oleh Lesty. Lesty tetap menghela nafas panjang, karena kompos yang dia buat kali ini adalah prestasi terbaiknya setelah empat kali gagal. Awalnya dia memandangi komposnya dengan takjub. Menghela nafas panjang sebagai bentuk kepuasan dan kebanggaan. Lalu helaan nafasnya berubah jadi kekecewaan, rasa iba, dan pikiran yang sama dengan kalian, “ kisah macam apa sih ini?”

_________________________________________________________________________________

Cerpen remaja,  cerpen remaja,  cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerita Populer