Ceritanya, tokoh utama kita sedang ikut Job Fair. Tas
ranselnya penuh surat lamaran, tadi sih, sekarang hanya tersisa satu. Tepat
ketika ia membelah kerumunan orang menuju stan PT. Ga Nekoneko, mata sipitnya
melihat sesosok pria yang amat dia kenal. Pacarnya.
Seulas senyum merkah di
wajah Evie. Dia berharap dapat segera menghampiri pacarnya. Segera dia letakkan
surat lamaran terakhir itu. Dengan gegap gempita, Evie segera berjuang membelah
kerumunan lagi, menuju stan PT. Jaya Merdeka Selamanya, tempat kekasihnya
bekerja. Dia melambaikan tangan dengan antusias, berharap kekasihnya tahu.
Namun antusiasmenya luntur seiring kesadarannya bangkit. Senyum di bibirnya
memudar. Evie melihatnya, pacarnya yang sulit dihubungi itu, yang berubah
sikapnya beberapa waktu ini, sedang bercanda bersama wanita lain. Lambaian
tangannya perlahan turun, kemudian berubah menjadi kepalan. Evie berusaha tidak
mengikuti langkah kakinya untuk berlari meninggalkan auditorium itu. Dia ingin
melihat lebih lama, memastikan bahwa pikirannya salah. Akan tetapi, pikirannya
benar. Sebilah belati seakan menyusup kemudian merobek hatinya pelan-pelan.
Evie menunduk sedih.
***
Evie sedang berbaring malas-malas bersama sepupunya di depan
televisi. Mereka menyetel sinetron hanya agar suasana rumah mungil itu ramai.
Selebihnya mereka hanya memindah-mindah saluran TV agar baterai remotnya
terpakai. Bagi mereka jalan ceritanya tak penting, karena durasi satu jam itu
sesungguhnya tak lebih dari mellihat iklan selama 40 menit.
“Terus?”
“Apanya yang terus?”
“Pacar lo?”
“Putus.”
“Apa?! Sumpeh lo?!” seru sepupu Evie histeris. “Ga nyesel?”
“Heeeeee.....,” Evie nyengir. “Capek.........tau..... Sedih
sih, tapi lebih sedih lihat pacar bahagia bercanda dengan selingkuhannya.”
“Jomblo lagi deh....,” ledek sepupunya.
“Kasihan deh.....,” sahut Evie. Mereka lantas bertukar
pandang.
“Hahahahaha......nasib....nasib....” gelak tawa mereka
mentertawakan nasib.
***
Paginya, Evie mendapat panggilan wawancara dari PT. Mari
Berusaha. Dia meminta sepupunya mendandaninya. “Pokoknya buat gue rapi dan
cantik,” pinta Evie.
Begitu wawancara berlangsung, syaratnya harus memiliki SIM
C. Evie pasrah.
“Ah! Kenapa harus pake SIM sih?” rengenknya sambil makan mie
instan di depan televisi. Sepupunya hanya tertawa-tawa saja. “Kan percuma dah
dandan cantik.”
“Derita lo.. Hahahaha...” jawab sepupunya santai.
Esok hari berikutnya, Evie kembali sibuk melingkari iklan
lowongan kerja di koran minggu sembari mendengarkan tayangan senam lantai di
televisi.
“Ja! CV.Blas Blas, Oke ga?!” teriaknya kepada Jana,
sepupunya, yang sedang mandi.
Dari kamar mandi terdengar jawaban dari sepupunya, “
Ghangang, ghitu rekhutakhigha helek!”
“Hais, ngomong apa sih lo?!” serunya, “ Oke, ga jadi gue
ambil!” Evie kembali menekuni iklan lowongan kerjanya.
“Mending lo kursus
motor deh, Vie,” saran Jana. Mereka sedang gotong royong mencabuti rumput di
halaman rumah mereka. Jika bukan karena ibu Jana memberi peringatan akan
berkunjung, mereka pasti lebih memilih makan keripik sambil baca novel ditemani
televisi.
“Ogah!” jawab Evie kilat. Dia berusaha mencabut rumput yang
mirip bayam, kebetulan akarnya terlanjut menghujam dalam. Dia berusaha hingga
terpental ke belakang. “Hos! Berhasil juga akhirnya.”
“Buat nyari kerja dodol......Berapa kali lo ditolak kerja
gara-gara cuma bisa naik sepeda?”
“Sering...”
“Nah! Udah berapa lamaran lo kirim?”
“184.”
“ Mampus aja lo nyari kerja!”
“ Ih....kok lo gitu, Ja?! Doain yang baik-baik dong.”
“ Males deh....”
“Siap ditempatkan di luar Jawa, Mbak?” tanya HRD PT. Ga Nekoneko. Evie kembali mendapat
panggilan wawancara.
“Siap, Pak,” Jawab Evie mantap.
“Siap kontrak dua tahun tidak menikah?”
“Waduh, ntar saya ga laku-laku dong, Pak.”
“Hihihihi...mbaknya jujur,” kata HRDnya cekikikan sendiri.
“OK. Saya suka kejujuran mbak Evie. Di sana nanti kami memfasilitasi mbak Evie
mobil. Bisa nyetir kan?”
Evie bengong sejenak, lalu menawarkan negosiasi. “Gimana
kalo sepeda saja, Pak?”
“Ditolak lagi?!” tanya sepupunya heran. Mereka sedang makan
es krim contong di depan Mall.
“He’eh. Mintanya SIM A.”
“Hahahaha....karir lo mati gara-gara SIM.”
“ Yup! Ngeselin emang.”
Pada akhirnya Evie mengambil kursus motor. Ga ada kelas
motor sebenernya. Semuanya kelas setir mobil. Berhubung pegawainya kasihan, dia
diberi kelas khusus kursus motor. Dapat diskon lagi. Maklum, pengangguran.
Hari pertama kursus, Evie dilatih mas-mas bertampang lumayan
yang jelas-jelas berusaha tampak ramah.
“Sudah bisa naik sepeda kan?” tanya mas-mas itu sok manis.
“Sudah, Mas.”
“Nah, motor matik sama dengan sepeda kok. Bedanya pakai
mesin. Jadi ga genjot, tapi ngegas. Bisa dibayangkan?”
“Bisa, Mas,” jawab Evie manggut-manggut.
“OK. Sekarang coba ya.”
“OK!” seru Evie bersemangat.
Beberapa jam kemudian, di depan televisi.
“Wahahahahaha!! Jadi lo nabrak pelatihnya?” Jana tertawa
hingga sakit perut.
“Jangan ketawa!” Evie sewot. “Sakit tau!” Dia memijit-mijit
pergelangan kakinya yang terantuk pedal motor.
“Whahahaha...lo emang apes, Vie.”
“Wuuu...malah ngata-ngatain.” Evie lelempar bantal ke muka
sepupunya.
Hari kursus kedua.
“Keseimbangan kamu jelek ya?” tanya pelatihnya. Kali ini ga
ada manis-manisnya.
“Ah, masa sih, Mas? Kayaknya biasa aja tuh.”
Pelatihnya menatap Evie curiga. “Coba sekarang jalan di atas
bambu ini,” perintah pelatihnya senunjuk sebatang bambu gelondongan yang
tergeletak di tepi lapangan.
Meski agak sebal Evie patuh. Begitu dia berusaha berjalan di
atas bambu tersebut, Evie jatuh pada langkah ketiga.
“Iya, keseimbangan mu sempurna kok,” kata pelatihnya datar
sambil melotot, “Sempurna kacaunya!”
Evie cengar-cengir, “Hehehe....peace, Mas.”
***
Sesampainya di rumah, Evie mencurahkan kekesalannya. “Siapa
yang bisa jalan di atas bambu gelondongan kayak gitu coba?! Ga mikir tu Masnya”
Jana mengalihkan perhatiannya dari majalah, “ Mas? Pelatihnya
mas-mas?”
“Iya. Galak banget.”
“Ow....” Jana senyum-senyum sendiri.
“Apa lo senyum-senyum?”
“Dih....biarin.”
***
Hari ketiga. Evie memulai kursus motor dengan menjalani latihan berjalan di atas balok bambu. Lalu sit up 10x. Lalu lari keliling lapangan sekali.
"Maaaas.....," Evie ngos-ngosan, "Ini emang berguna untuk latihan motor?"
"Enggak."
"Haaa?!?!" Evie langsung terduduk lesu. "Terus, ngapain coba?"
"Motornya baru di bengkel, Mbak.... jadi ga bisa dipakai kursus."
"Argh!!!!!"
***
"Pelatihnya rese!"
"Sudah....sudah.... nih makan pepes bandeng kiriman Emak loe," Jana membujuk sepupunya biar ga emosi.
"Huhuhuhu....gue ga pengen kursus lagi, Ja...huhuhu...Gue pengen kerja, Ja. Gue pengen nunjukin ke mantan kalo bisa kerja dapet gaji gedhe. Biar dia nyesel udah nyelingkuhin gue....Huhuhuhu...."
"Iya...hue ngerti, Vie. Sabar ya. Semua ada hikmahnya."
"Lu ga ngrasain sih, Ja....sakit hati gue, Ja. Gue ngerasa dihianati banget. Mana platihnya rese! Masa gue disuruh lari keliling lapangan segala....huhuhu....Sinting tu orang!"
"Iya, gue ngerti. Sabar ya. Makan dulu gih."
Evie menghentikan tangisnya sejenak, lalu menatap sepupunya yang tengah sibuk mengunyah. "Jana!"
Jana kaget mendengar bentakan Evie.
"Gue lagi sedih loe malah makan. Jahat banget sih?!"
"Lah...nangis loe kan rutin, Vie... Sama kek makan gue. Ya udin lo nangis, tetep gue dengerin kok. Tapi gue laper."
"Hiiiih!!! Kamu kok gitu sih?"
"Udah lah, makan dulu. Toh loe tetep bisa nangis sambil makan. Enak lho pepesnya. Ga kebagian, loe nangis lagi."
"Ya udah, mana piring?"
***
Hari keempat.
Karena masih dendam sama pelatihnya, Evie ga mau berangkat kursus. Dia memilih untuk merawat diri di rumah.
"Bener lho ya, loe ga kursus. Jangan lupa jemuran diurusin. Gue musti ke kantor POS pusat," kata Jana pamit.
"Hmmmm.....," jawab Evie sekenanya karena mukanya sedang dimasker.
"Jangan lupa ntar karpet yang ku jemur dipantau."
"Hmmmm...."
"Kalo loe pergi beli makan, kunci pintunya."
"Hmmm....."
"Kalo pergi beli makan pastikan cucian ama karpet aman."
"Hmmmmm!!!!!"
Bawel banget sih, mau pergi dari tadi malah ngoceh mulu, batin Evie.
***
Hari kelima.
Evie terpaksa berangkat kursus karena Jana maksa untuk nganter. Modus sebenernya. Jana pengen ketemu sama pelatih kursus. Penasaran.
"Kemaren kok ga masuk, mbak?"
"Diare, Mas. Stres sih mas omelin mulu," jawab Jana cengar-cengir. " Kenalin, Mas...Jana, sepupunya Evie."
"Kenalin juga, Bayu."
Evie nendang-nendang kaki Jana sebagai potes. Tapi mulut sepupunya itu terlanjur bebas hambatan.
"Kalo pelatihnya kek Mas Bayu sih, saya bakal berangkay terus tiap hari..biarpun ga ada jadwalnya. Hahaha..."
"Hahahaha... Mbak Jana bisa aja. lho."
(bersambung.....)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar