Ratih terlalu baik hati. Dia sudah bekerja sebagai sales
barang-barang elektronik di salah satu perusahaan kredit nasional. Sudah
berjalan kesana-kemari menawarkan produknya hingga memenuhi target penjualan.
Namun gajinya dipinjam teman-temannya dan tak dikembalikan juga. Karirnya
dijatuhkan karena ada sales lain yang merasa tersaingi oleh dirinya. Hingga
akhirnya dia memilih berhenti dan kembali ke rumah orang tuanya.
Ratih tidak bodoh. Mengingat prestasinya di sekolah dasar
dulu dengan rangking tiga besar setiap pembagian rapot. Dia sempat kuliah dan
nilainya pun bagus. Dia sempat bekerja di perusahaan nasional, namun buru-buru
keluar karena gajinya tak lebih tinggi dari babysister di mansion borjuis.
Bukan hanya sekali, dia bekerja di perusahaan. Terakhir dia sempat menjadi
karyawan perusahaan helm Korea, itu pun tak bertahan lama berkat campur tangan
teman kerjanya yang terlalu perhatian pada urusan orang lain. Bahkan ketika
wawancara di perusahaan obat dia langsung disodori kontrak kerja, namun Ratih
terlanjur melihat nominal gajinya dan dia langsung pamit pulang.
Ratih hanya malang. Dia sering disingkirkan rekan kerjanya karena terlalu berprestasi. Sering orang berhutang padanya karena gajinya selalu ditabung dan jarang belanja. Bahkan ketika dia akhirnya memiliki idola, seorang penyanyi muda tampan, tiket konser yang diperolehnya dengan susah payah lumat di dalam saku bajunya, berkat seorang teman yang bermaksud mencucikan baju Ratih sebagai bentuk rayuan agar mendapat kelonggaran pelunasan hutang.
Ratih hanya bingung. Bingung bagaimana harus menjadi
manusia. Bingung bagaimana agar dia jauh dari
kemalangan. Bingung bagaimana agar orang tak lagi berhutang padanya.
Pada akhirnya Ratih menyadari, mungkin kepribadiannya adalah
kepribadian kaum teraniaya. Mungkin di wajahnya ada tulisan “tindaslah saya”
sehingga beberapa teman kerjanya selalu memfitnah dia hingga dia berhenti
bekerja. Bisa jadi di dahinya ada tulisan “aku gampang ditipu” sehingga banyak
orang berhutang dan tak mengembalikan
uangnya.
Ratih berfikir, apakah pekerjaan yang sesuai dengan
karakternya? Karakter orang yang gampang teraniaya paling cocok bekerja sebagai
kaum teraniaya. Pengemis? Ah, itu orang tak berdaya. Rasanya pembantu adalah
jawaban yang paling tepat. Ratih pun memutuskan menjadi pembatu rumahtangga
saja.
“Kamu yakin,
Tih?” tanya Buliknya di telepon. Ratih menghubungi Buliknya yang sudah bekerja
sebagai PRT selama dua puluh tujuh tahun. “Kamu kan sekolah sampai tinggi. Masa
jadi pembantu?”
“Yakin,
Bulik. Ratih sudah mantep.”
“Lha
pekerjaan mu yang dulu gimana? Coba kamu melamar kerja di perusahaan lagi. Kamu
kan bisa jadi pegawai kantoran, Tih.”
“Ratih sudah
capek, Bulik. Ratih kerja di kantoran tapi hidup Ratih ga lebih dari orang
kekurangan, Bulik. Ratih pikir, mungkin memang ga cocok kerja kantoran.”
“Lha gimana
to, Nduk, kok nasib mu sengsara begitu?” dari ujung sambungan telepon sana, si
Bulik menitikkan air mata, mengetahui kemalangan keponakannya itu. “Yo wis,
Nduk, Bulik carikan kerja di sekitar sini. Sapa tau temen majikannya Bulik ada
yang perlu pembantu. Tak kabari lagi besok yo, Nduk.”
“Nggih,
matur nuwun, Bulik. Ratih tunggu kabar selanjutnya.”
###
Maka, Ratih menunggu kabar dari Buliknya. Majika buliknya adalah seorang duta besar Indonesia
di Inggris, dulu. Sekarang, majikannya sudah kembali ke Indonesia, namun
siBulik masih sering ke luar negeri karena nebeng majikannya jalan-jalan atau
menengok anak dan cucu majikannya di luar negeri. Menimbang luasnya koneksi
majikan Buliknya, maka Ratih bertekad membekali dirinya dengan kemampuan bahasa
asing yang baik. Bahasa Inggrisnya sudah lumayan, tapi bahasa lainnya, dia tak
tahu. Itulah alasan mengapa Ratih belajar bahasa asing.
Tepat ketika ada berita di TV bahwa pesawat Perkutut Airline
mendarat di area persawahan karena mendadak pilotnya ingin ikut bancak’an wiwit
di sawah kakek buyutnya, Ratih mendapat kabar bahwa teman majikan Buliknya
sedang mencari asisten rumah tangga.
Teman majikan
Buliknya itu tidak mau mencari pembantu, karena pembantu itu cenderung cuma
bisa bantu. Teman majikan Buliknya perlu asisten yang bisa mengawasi, dan menjaga anaknya yang sedang berlibur sekaligus
rehabilitasi. Ketika Buliknya cerita bahwa Ratih sedang perlu pekerjaan, si
Teman majikannya Bulik ini langsung tertarik. Diam-diam sebenarnya yang diincar
itu si Bulik, namun majikan Bulik pasti ga akan melepas pembantunya yang setia.
Karena Ratih ini adalah keponakan seorang pembantu setia, terlebih pernah
mengenyam pendidikan tinggi, maka kredibilitas Ratih dirasa memenuhi kriteria yang
ditetapkan. Mereka sepakat untuk mempertemukan Ratih dengan calon majikannya.
Maka, tepat ketika jam digital menampilkan angka 3:33 Ratih
bertemu dengan calon majikannya. Calon majikannya ini bertubuh kurus, okelah
sebut saja langsing, dengan dagu terangkat sedikit, pakaian menyerupai
kelelawar, dan sepatu yang hampir serupa dengan setlikaan. Namanya Miss Tery.
Miss Tery
mengangkat dagunya sejenak kemudian mengajukan pertanyaan pada Ratih, “Bisa
ngetik?”
Ratih yang
heran langsung menatap calon majikannya dengan heran.
“Ehmm....,”
Miss Tery berdehem, kemudian mengangkat dagunya sejenak, “Bisa ngetik?”
ulangnya lagi. Kali ini dilengkapi dengan tekanan pada pertanyaannya dan
tatapan tajam ke arah Ratih. Dia tersinggung karena harus mengulang pertanyaan
dua kali.
“Bisa,
Miss,” jawab Ratih mantab.
Miss Tery
mengangguk puas. Lagi-lagi dia mengangkat dagu sejenak. “Bisa bahasa Inggris?”
“ Bisa,.......sedikit, Miss,” Ratih nyengir.
" Misal keponakan saya ngomong Inggrisnya, kamu bisa ngerti? Pokoknya tugas kamu menjaga dia, ga boleh keluyuran, walau pakai bahasa Inggris, kamu bisa ngerti sedikit-sedikit kan kalo dia mau pergi?"
"Iya, Miss. Kalau dia ngomong 'Go atau out' saya akan melarangnya."
"Bahkan kalo dia ngomong dengan bahasa Korea. Apalagi dia ngomong dengan bahasa Korea, kamu harus langsung kunci pintu. Ngerti?"
"Ngerti, Miss."
Miss Tery
mengangguk puas. Kemudian mengangkat dagu sejenak. "OK. Sepertinya kamu cukup bisa diandalkan."
Maka disepakatilah kontrak kerja antara Ratih dan Miss Tery.
Ternyata Miss Tery bukanlah calon majikan Ratih. Dia adalah adik dari calon
majikan Ratih. Miss Tery hanya diutus, karena kebetulan calon majikan Ratih
sedang sibuk mempersiapkan kepindahan anaknya dari Korea ke Indonesia.
“Besok ikut saya ke kantor imigrasi ya. Kita buat paspor dan visa untuk kamu,” kata Miss Tery
setelah menyelesaikan penandatanganan surat kontrak kerja bermaterai dengan
Ratih.
“Lha? Ini saya mau dijadikan TKI ya, Miss?”
“Bisa dibilang begitu. Tapi ga juga,” jawab Miss Tery santai. “Kamu tidak perlu khawatir, nanti kamu tinggal di rumah
keluarga Indonesia, jadi tidak perlu menguasai bahasa sana secara khusus.”
“I-iya, Miss,” jawab Ratih agak gugup. Ratih berdoa,
semoga dia ga harus terjun dari gedung lantai 19 seperti nasib TKI di Malaysia.
:: Korea::
Akhirnya setelah paspor dan visa Ratih jadi, dia terbang ke Korea. Berkat bantuan Miss Tery, dia jadi punya paspor. Namun meski dia akhirnya merasakan naik pesawat dan ke luar negeri, tetap saja terselip kekhawatiran di benak Ratih. Sebelum dia berangkat, dia sudah meninggalkan surat wasiat yang ditinggalkan dalam lemari pakaian di rumah. Ratih ingat berita- berita mengenai nasib TKI yang kehilangan nyawanya. Ga pengen sih jadi kayak gitu. Misalakan ternyata nasib Ratih kurang beruntung, setidaknya dia sudah meninggalkan permintaan maaf kepada orang tua-nya.
Selama beberapa hari ini Miss Tery ,menceritakan banyak hal mengenai kakak perempuannya dan keponakannya. Kakaknya bernama Shinta, suami kakaknya bernama Haryo, dan keponakannya bernama Ihyun. Keponakan Miss Tery akan dipindahkan ke Indonesia sementara waktu. Karena orangtuanya tak bisa ikut pindah, dan Miss Tery sendiri sibuk, jadi mereka memerlukan seorang asisten untuk membantu dan memantau keadaan Ihyun.
Ratih mencoba mengingat-ingat semua rincian mengenai keperluan Ihyun. Dia juga mengingat hal-hal yang dilarang selama menjaga Ihyun. Bayangan Ratih, Ihyun itu anak SMP yang harus dijaga karena memiliki masalah kepribadian. Mungkin dia depresi karena nilai sekolahnya merosot. Ratih pun bertekad akan menjaga Ihyun seperti adiknya sendiri.
Setelah berada delapan jam di pesawat, akhirnya Ratih tiba juga di Korea. Pesawaatnya mendarat di bandara Incheon sekitar pukul 8.30. Ratih takjub melihat kemegahan bandara internasional ini. Ratih juga takjub melihat orang-orang dengan mata sipit dimana-mana. Ratih seperti berada di negeri lain.
Sedang ndeso-ndesonya, mendadak suara melengking Miss Tery membuyarkan rasa takjub Ratih. “Kamu jangan jauh-jauh dari saya, ya! Nanti hilang!” perintah Miss Tery.
Ratih patuh saja. Miss Tery benar, kalau sampai Ratih hilang, nanti dia sungguhan jadi TKI bernasib naas. Lagipula Ratih tidak bisa bahasa Korea. Maka Ratih terus membuntuti Miss Tery hingga mereka mendapatkan taxi.
Ratih takjub melihat rumah majikannya. Halamannya cukup luas, penuh tanaman hias. Sembari menenteng tasnya, Ratih mengagumi rumah bergaya modern itu dengan tampang bloon. Miss Tery memanggilnya agar bergegas masuk.
Miss Tery langsung disambut kakak perempuannya, Ny. Haryo. “ Eonni, ini Ratih, yang akan jadi asisten barunya Ihyun,” jelas Miss Tery sambil mengangkat dagunya sedikit. Ratih langsung jadi pusat perhatian.
“ Oh...ayu ya. Kok kayaknya ga pantes jadi pembantu,”komentar Ny.Haryo antusias.
Miss Tery langsung memandang Ratih, lalu mengangkat dagunya sedikit, “Dia kan ku bawa untuk jadi asisten, bukan pembantu. Tentu saja aku pilih yang pantas, Eonni.”
Namun Ny. Haryo tidak terlalu menggubris adiknya. Dia menghampiri Ratih lantas menuntunnya ke ruangan lain, “Mari nduk, tak anter ke kamar mu.”
Ratih bingung, kok pake bahasa jawa? Mengingat penjelasan Miss Tery, dia akhirnya mengerti, majikannya ini memang orang Jawa asli yang tinggal di Korea. “Nggih, Bu,” jawab Ratih sopan.
“ Seneng aku, akhirnya ada yang bisa ku ajak ngobrol. Tery itu ga mau menetap di sini, katanya ga cocok sama makanannya. Padahal kan aku selalu masak makanan Indonesia, meskipun bumbunya kadang ga lengkap. Eh, umur mu berapa nduk?”
“28 tahun, Bu.”
“ Pas kalau jadi kakaknya Ihyun. Kalian pasti bisa cepet akrab,” jelas Ny.Haryo. Ratih cengar-cengir. “Oh ya, Nduk. Kamu bisa mandiin anak laki-laki to?”
“ He?!"
Ratih bengong.[bersambung....]
Baca episode 2 Juragan dan Asistennya
________________________________________________________________________________
Cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja, cerpen remaja.


HBD Aden.....
BalasHapusWah....ni artis siapa yg diceritain?
BalasHapus